Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, memberikan peringatan keras terkait eskalasi konflik di Selat Hormuz yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Azis menilai selat tersebut bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan "arteri utama" ekonomi dunia yang jika tersumbat akan memicu guncangan inflasi global, termasuk di Indonesia.
Menurut Azis, letak geografis Selat Hormuz yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia menjadikannya titik paling rawan dalam geopolitik modern. Ia menyebut dunia saat ini sedang berada di ambang krisis energi jika konfrontasi militer tidak segera diredam.
"Jika Selat Hormuz tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya. Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik di banyak negara bisa ikut terguncang," ujar Azis dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).
Azis membedah bahwa para pemimpin dunia saat ini sedang membaca peta konflik yang sama dengan kepentingan yang berbeda. Ia menyoroti posisi Washington di bawah Donald Trump yang berupaya menjaga arsitektur perdagangan dunia, sementara Beijing di bawah Xi Jinping sangat pragmatis dalam menjaga stabilitas energi demi keberlangsungan industri domestiknya.
"Bagi Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar, stabilitas lebih penting daripada kemenangan siapa pun dalam konflik ini. Gangguan di Hormuz akan langsung memukul pabrik-pabrik di Shanghai dan Shenzhen," jelasnya.
Di sisi lain, Azis melihat Rusia pimpinan Vladimir Putin menggunakan krisis ini sebagai ruang manuver untuk mengalihkan fokus Amerika Serikat dari Eropa sekaligus mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga energi dunia.
Lebih lanjut, Azis menyoroti dilema yang dihadapi Riyadh dan Tehran. Arab Saudi menurutnya berada di posisi sulit antara rivalitas strategis dengan Iran dan risiko kehancuran stabilitas kawasan. Sementara Iran, di bawah Masoud Pezeshkian, diprediksi akan menggunakan strategi eskalasi asimetris melalui misil dan jaringan milisi untuk membuat perang menjadi sangat mahal bagi lawan.
"Sejarah menunjukkan bahwa Iran bukan Irak atau Afghanistan. Invasi darat ke negeri itu hampir pasti menjadi perang panjang yang sangat mahal," tambahnya.
Azis memprediksi masa depan krisis ini akan bergerak ke tiga arah utama: tidak adanya invasi darat besar-besaran karena kompleksitas wilayah Iran, meluasnya konflik ke Lebanon, Suriah, hingga Laut Merah, serta ancaman lonjakan harga energi yang memicu tekanan sosial domestik di berbagai negara.
"Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia. Kita harus waspada terhadap perubahan politik domestik yang tidak terduga akibat krisis energi ini," pungkas Azis. (H-2)
IRGC Iran menahan kapal MSC Francesca dan Epaminondas di Selat Hormuz atas dugaan keterkaitan dengan Israel dan pelanggaran navigasi maritim.
Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran sampai tercapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
AS sita kapal kargo Iran di tengah blokade Selat Hormuz. Meski situasi memanas, sinyal perundingan damai di Pakistan mulai menguat. Akankah Iran hadir?
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) Maret 2026 melonjak ke US$102,26 per barel akibat eskalasi konflik AS-Israel-Iran dan blokade Selat Hormuz.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil langkah tegas dengan memerintahkan blokade Selat Hormuz setelah perundingan damai AS dan Iran mengalami kebuntuan.
Kegagalan perundingan damai antara Donald Trump dan pemerintah Iran di Islamabad kembali memperuncing ketegangan kedua negara, sekaligus membuka babak baru ketidakpastian di kawasan dan jalur energi global.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved