Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menegaskan bahwa militer AS tidak lagi memerlukan bantuan dari Jepang, NATO, maupun sekutu lain untuk mengamankan Selat Hormuz. Pernyataan ini menandai babak baru isolasionisme AS di tengah krisis energi global 2026.
Klaim ini disampaikan Trump pada Selasa (17/3/2026), hanya beberapa hari setelah ia secara terbuka meminta bantuan internasional untuk menjaga jalur pelayaran yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia tersebut.
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump mengekspresikan kekesalannya terhadap sekutu-sekutu tradisional AS yang dianggap lamban dalam merespons permintaan pengiriman armada tempur ke kawasan Teluk.
"Karena kita telah mencapai keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi 'membutuhkan,' atau menginginkan, bantuan negara-negara NATO -- KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA! Demikian juga Jepang, Australia, atau Korea Selatan," tulis Trump dalam unggahan yang segera memicu reaksi diplomatik global.
Di Ruang Oval, Trump kembali menegaskan kekecewaannya terhadap NATO. Ia menilai organisasi pertahanan tersebut sebagai beban finansial bagi AS yang menghabiskan ratusan miliar dolar setiap tahun tanpa timbal balik yang sepadan.
Trump juga membandingkan situasi di Timur Tengah dengan bantuan militer AS ke Ukraina. Ia mengeluhkan bahwa AS menyediakan peralatan militer dalam jumlah besar secara gratis kepada Ukraina atas permintaan sekutu Eropa untuk melawan Rusia, tetapi sekutu yang sama enggan membantu AS di Selat Hormuz.
Berbeda dengan sikapnya terhadap NATO, Trump justru memberikan apresiasi tinggi kepada negara-negara Teluk. Ia menyebut Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai, "Negara-negara hebat," yang memberikan dukungan kuat terhadap strategi AS di kawasan tersebut.
Meskipun Trump mengeklaim keberhasilan militer, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih dalam kondisi lumpuh akibat blokade Iran sejak serangan 28 Februari lalu. Hal ini menyebabkan harga minyak dunia tetap berada pada level tertinggi, mengancam stabilitas ekonomi negara-negara importir besar di Asia dan Eropa.
Selat Hormuz adalah jalur air sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari, menjadikannya titik tersedak (chokepoint) paling kritis dalam infrastruktur energi global. (Ant/Kyodo News/I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved