Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI di perairan Teluk dan Selat Hormuz mencapai titik didih pada Kamis (12/3) setelah serangkaian serangan sabotase menghantam sejumlah kapal tanker dan kargo. Insiden ini mengakibatkan satu awak kapal tewas, beberapa lainnya hilang, dan memicu kebakaran hebat di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pejabat pelabuhan Irak mengonfirmasi bahwa dua kapal utama yang menjadi sasaran adalah kapal Safesea Vishnu berbendera Kepulauan Marshall dan kapal tanker Zefyros berbendera Malta yang memuat bahan bakar dari Irak. Tim penyelamat dilaporkan telah mengevakuasi 25 awak kapal, namun satu jenazah awak kapal asing ditemukan di perairan sekitar lokasi.
Direktur Jenderal General Company for Ports of Iraq, Farhan al-Fartousi, menyatakan bahwa api masih berkobar di kedua kapal tersebut hingga Kamis siang. Akibat insiden ini, otoritas Irak mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara operasional di pelabuhan minyak.
"Operasi di pelabuhan minyak dihentikan sementara setelah serangan itu untuk mitigasi risiko, sementara pelabuhan komersial tetap beroperasi," ujar al-Fartousi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Koresponden Al Jazeera di Baghdad, Mahmoud Abdelwahed, melaporkan bahwa pemerintah Irak memandang insiden ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara karena terjadi di dalam perairan teritorial mereka.
Ketegangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, semakin memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memberikan pernyataan melalui Tasnim News Agency. IRGC mengindikasikan bahwa pejuang Iran terlibat langsung dalam penembakan kapal-kapal tersebut.
Laporan intelijen menyebutkan adanya dugaan pemasangan belasan ranjau di jalur pelayaran tersebut oleh pihak Iran. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukan Amerika telah menyerang setidaknya 28 kapal Iran yang diduga menyebarkan ranjau di kawasan strategis tersebut.
Selain di perairan Irak, serangan juga menyasar kapal-kapal di wilayah lain:
Meski risiko keamanan meningkat tajam, Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan dari industri pelayaran untuk memberikan pengawalan militer di Selat Hormuz. Sumber internal menyebutkan bahwa risiko konfrontasi langsung saat ini dinilai terlalu tinggi bagi armada AS. (Z-10)
Merespons kejadian tersebut, Iran melancarkan seranganĀ droneĀ terhadap kapal-kapal perang AS, yang menyebabkan pasukan AS mundur.
PERGERAKAN kapal di Selat Hormuz sempat kembali hidup meski hanya sesaat.
Kapal tanker milik perusahaan Tiongkok yang disanksi AS terdeteksi menembus Selat Hormuz, menandai pelayaran pertama sejak blokade berlaku.
Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Ia menyatakan bahwa negara-negara yang memperoleh manfaat dari keamanan pelayaran di selat itu harus membayar biaya dan pajak kepada Iran.
Seruan Donald Trump agar sekutu kirim kapal perang ke Selat Hormuz sepi respons. Iran blokade jalur energi utama dunia bagi AS, picu lonjakan harga minyak global.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved