Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Israel secara resmi mengumumkan telah melancarkan "serangan preemtif" terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2).
Operasi militer berskala besar ini memicu guncangan hebat di jantung pemerintahan Teheran dan memaksa Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menetapkan status darurat nasional di seluruh negeri demi menghadapi potensi balasan mematikan.
"Negara Israel telah meluncurkan 'serangan preemtif' terhadap Iran. Menteri Pertahanan Israel Katz telah mengumumkan keadaan darurat khusus dan segera di seluruh negeri," demikian pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel dikutip dari TRT World.
Saksi mata di Teheran melaporkan suara ledakan dahsyat yang mengguncang pusat kota disertai kepulan asap tebal yang membumbung tinggi.
Tidak hanya di ibu kota, kantor berita Fars melaporkan rentetan ledakan juga terdengar di sejumlah titik strategis seperti Isfahan, Qom, Karaj, hingga Kermanshah.
Hingga kini, pemerintah Iran masih bungkam dan belum memberikan pernyataan resmi terkait dampak kerusakan maupun langkah balasan yang akan diambil.
Laporan awal menyebutkan salah satu target utama serangan menyasar area di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meski keberadaan pria berusia 86 tahun tersebut saat kejadian belum dipastikan, seorang pejabat mengungkapkan bahwa Khamenei telah dievakuasi ke lokasi rahasia yang aman di luar Teheran.
Kantor berita ISNA melaporkan bahwa gempuran awal ini telah memakan korban jiwa dan luka dari pihak personel Garda Revolusi, termasuk staf operasional utama mereka.
Aksi militer ini dilakukan di tengah memanasnya isu program nuklir Iran yang sedang dalam tahap pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Menariknya, keterlibatan Washington dalam operasi ini mulai terkuak. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa militer Paman Sam ikut berpartisipasi dalam serangan tersebut, baik melalui jalur udara maupun laut, meskipun rincian sejauh mana keterlibatan mereka masih samar.
Dampak dari eskalasi ini langsung melumpuhkan aktivitas publik. Israel dan Iran secara serempak menutup wilayah udara mereka bagi penerbangan sipil.
Di dalam negeri Israel, militer mulai membunyikan sirene peringatan udara dan mengeluarkan larangan ketat terhadap kegiatan pendidikan, kerumunan massa, hingga operasional tempat kerja.
"Larangan terhadap kegiatan pendidikan, pertemuan, dan tempat kerja," telah diberlakukan oleh militer Israel, kecuali bagi "sektor-sektor esensial" yang tetap diizinkan beroperasi di bawah pengawasan ketat Home Front Command. Dunia kini menanti bagaimana Teheran akan merespons serangan langsung terhadap kedaulatan mereka ini. (Ndf)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved