Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri (PM) Jepang Shigeru Ishiba mengaku sedang mempertimbangkan untuk menawarkan perawatan medis bagi warga Gaza yang sakit dan terluka. Kesempatan pendidikan juga akan ditawarkan kepada warga Gaza yang berada di bawah gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
"Kami berpikir untuk meluncurkan program serupa untuk Gaza, dan pemerintah akan berupaya mewujudkan rencana ini," kata Ishiba dalam sidang parlemen seperti dikutip Channel News Asia.
Menurut Kantor Berita Kyodo, Ishiba mengatakan dalam sidang parlemen bahwa pihaknya sedang berupaya mencari cara agar Jepang dapat menerima orang-orang yang sakit atau terluka dari Gaza.
Jepang juga akan mencoba meluncurkan program khusus bagi mahasiswa Palestina untuk belajar di universitas-universitas Jepang. Saat berkunjung ke Malaysia pada Januari lalu, Ishiba mengatakan negaranya akan memfasilitasi pembangunan Palestina.
Kementerian kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan 50 pasien Palestina, termasuk 30 anak-anak penderita kanker, dan rekan-rekan mereka melewati penyeberangan Rafah yang dibuka kembali ke Mesir pada hari Sabtu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 19 Januari.
Direktur rumah sakit Gaza mengatakan 6.000 pasien siap dipindahkan dari wilayah Palestina, dan lebih dari 12.000 sangat membutuhkan perawatan.
Sementara itu, Pakistan menyatakan siap untuk menampung sejumlah tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Tel Aviv di Jalur Gaza.
"Pakistan adalah salah satu dari empat negara yang setuju untuk menampung tahanan Palestina yang dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Hamas pada 15 Januari untuk mengakhiri perang Gaza," lapor sebuah kantor berita Palestina yang dianggap dekat dengan Hamas pada Senin (3/2).
Dilaporkan fase gencatan senjata awal selama enam minggu yang mengakhiri perang selama 15 bulan mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza tengah dan kembalinya warga Palestina yang terlantar ke Gaza utara.
Salah satu komponen utama dari perjanjian tersebut adalah bahwa Hamas akan membebaskan 33 sandera Israel, termasuk semua perempuan (tentara dan warga sipil), anak-anak dan laki-laki berusia di atas 50 tahun.
Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan 30 tahanan Palestina untuk setiap sandera sipil dan 50 tahanan Palestina untuk setiap sandera.
"Gerakan (Hamas) saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa negara untuk mendapatkan persetujuan menampung sisa tahanan yang dibebaskan,” kata kantor berita tersebut dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Senin, mengutip pejabat senior Hamas.
“Negara-negara yang telah setuju untuk menerimanya sejauh ini termasuk Turki, Qatar, Pakistan, dan Malaysia," lanjutnya seperti dilansir Arabnews, Selasa (4/2).
Laporan tersebut mengatakan 99 tahanan Palestina yang dibebaskan oleh Israel telah dideportasi ke Mesir, dan 263 orang diperkirakan akan dibebaskan setelah selesainya tahap pertama proses pembebasan.
Dikatakan 15 tahanan Palestina diperkirakan tiba di Turki pada hari Selasa (4/3) dari ibu kota Mesir, Kairo.
Sedangkan laporan Quds Press muncul di tengah perundingan yang akan dimulai hari ini mengenai kesepakatan tahap kedua dari perjanjian tersebut. Hal ini akan mencakup pembebasan sandera Israel yang tersisa dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Memulai negosiasi
Sementara itu, sumber dari biro politik Hamas mengatakan pada Senin (3/2) bahwa kelompok pejuang itu siap untuk terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan Israel tahap kedua. Pembahasan dilakukan kemungkinan terkait pertukaran tawanan dengan sandera.
"Hamas telah memenuhi semua ketentuan perjanjian dan siap untuk memulai negosiasi tidak langsung dengan Israel untuk menyelesaikan tahap kedua, yang bertujuan untuk meringankan penderitaan rakyat kami,” ujar sumber biro politik Hamas, seperti dikutip dari China.org, kemarin.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata tiga tahap yang dicapai antara Israel dan Hamas bulan lalu, negosiasi untuk melaksanakan tahap kedua akan dimulai sebelum hari ke-16 tahap pertama, yang jatuh pada hari Senin.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan perjalanan ke Washington pada hari Minggu (2/2) untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Laporan media mengindikasikan bahwa Netanyahu memutuskan untuk menunda pengiriman tim negosiasi ke Qatar untuk pembicaraan tentang tahap kedua hingga setelah pertemuannya dengan Trump.
Tidak menjamin
Donald Trump pada Senin (3/2) waktu setempat mengatakan dirinya tidak menjamin gencatan senjata di Jalur Gaza dapat bertahan. Hal itu ia sampaikan sehari sebelum menjamu Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. “Saya telah melihat orang-orang dianiaya. Tidak seorang pun pernah melihat hal seperti itu. Tidak, saya tidak memiliki jaminan bahwa perdamaian akan terwujud,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Ketika ditanya apakah ia akan mendukung aneksasi Israel atas Tepi Barat yang diduduki, Trump mengatakan mempertimbangkan usulan tersebut. “Baiklah, saya tidak akan membicarakan hal itu. Negara ini memang kecil dalam hal wilayah,” katanya.
“Sebenarnya, wilayah ini cukup kecil, dan sungguh menakjubkan bahwa mereka mampu melakukan apa yang telah mereka lakukan. Jika Anda memikirkannya, mereka memiliki banyak kekuatan otak yang cerdas, tetapi wilayah ini sangat kecil, tidak perlu diragukan lagi,” tambahnya.
Wakil Kepala Kantor Politik Hamas, Musa Abu Marzouk, mengatakan perang di Jalur Gaza tidak akan berlanjut setelah kesepakatan gencatan senjata tahap pertama karena masih banyak tentara Israel yang ditawan. “Saya mengesampingkan kemungkinan perang akan berlanjut setelah tahap pertama,” kata Musa Abu Marzouk kepada Ria Novosti.
Menurut dia, perang berhenti bukan lantaran pemimpin Israel Benjamin Netanyahu cinta damai, tetapi karena masih banyak tentara Israel yang menjadi tawanan. “Secara total, lebih dari 60 tentara Israel masih menjadi tawanan perang,” kata Musa.
Dia berpendapat Israel mungkin akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata tahap kedua untuk mengamankan pembebasan tentara mereka. “Oleh sebab itu, tentara Israel tidak akan berperang selagi rekan mereka ditahan,” kata dia.
Musa menambahkan, selama ini Israel berperang untuk membebaskan perempuan, orang sakit, dan warga sipil, tetapi tidak untuk membebaskan tentara. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan bahwa perundingan tahap kedua dimulai pada 3 Februari.(Anadolu/MTVN/Ant/P-3)
Loyalis Mahmoud Abbas menang pemilu lokal Palestina, termasuk di Gaza. Partisipasi rendah, hasil dinilai langkah awal menuju persatuan politik nasional.
Dewan Perdamaian (BoP) mendesak Hamas serahkan senjata dan peta terowongan Gaza pekan ini sebagai bagian dari rencana perdamaian tahap kedua Donald Trump.
Komandan Hamas diculik di Gaza City, picu operasi pencarian. Di Tepi Barat, militer Israel tembak mati pemuda Palestina saat penggerebekan di Hebron.
Pejabat Hamas Bassem Naim kecam utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, karena syaratkan pelucutan senjata sebagai imbalan rekonstruksi Gaza dan penarikan pasukan.
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan rencana pengiriman TNI ke Gaza merupakan misi kemanusiaan di bawah mandat PBB, bukan keterlibatan Indonesia dalam konflik bersenjata.
Studi The Lancet ungkap kematian di Gaza 35% lebih tinggi dari data resmi. Hingga Jan 2025, 75 ribu warga tewas akibat serangan Israel, mayoritas perempuan & anak-anak.
PBB menegaskan rencana Israel memperluas permukiman di Dataran Tinggi Golan ilegal. Suriah upayakan kesepakatan keamanan baru terkait penarikan pasukan.
Wilayah udara Turki saat ini ditutup bagi pejabat Israel dan pesawat yang membawa senjata.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Israel dilaporkan mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke Emirat Arab untuk melindungi infrastruktur kunci dari serangan rudal dan drone Iran di Teluk.
Ia juga mengkritik pelaksanaan dua putaran pembicaraan langsung antara Libanon dan Israel yang berlangsung di Washington beberapa hari lalu.
Militer Israel (IDF) melakukan investigasi atas laporan maraknya penjarahan rumah warga dan perusakan properti sipil oleh tentaranya di Libanon Selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved