Curah Hujan Menurun, BMKG Siaga Hadapi Karhutla

Ficky Ramadhan
18/4/2026 12:54
Curah Hujan Menurun, BMKG Siaga Hadapi Karhutla
Karhutla di Aceh Barat.(Dok. Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul tren penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.

Ia menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini menunjukkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia berada pada fase netral. Namun, ia mengingatkan adanya potensi perkembangan El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua tahun 2026.

Menurut Faisal, meski dampak El Nino kali ini diperkirakan tidak sekuat tahun 2015, 2019, dan 2023, risiko yang ditimbulkan tetap perlu diantisipasi, terutama karena bertepatan dengan musim kemarau 2026.

"Musim Kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang terpisah. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif. Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini. BMKG akan terus memantau agar prediksi ke depannya lebih akurat," kata Faisal dalam keterangannya, Sabtu (18/4).

Ia juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai musim kemarau. Menurutnya, kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali, melainkan kondisi ketika curah hujan berada di bawah ambang batas klimatologis.

Untuk wilayah Kalimantan Barat, BMKG memprakirakan penurunan curah hujan mulai terjadi sejak Mei, terutama di wilayah selatan garis khatulistiwa. Kondisi ini diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September, sebelum kembali meningkat pada Oktober.

Dalam upaya mitigasi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah kementerian/lembaga terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Di Kalimantan Barat, peluang pembentukan awan masih cukup tinggi, sehingga memungkinkan dilakukan penyemaian awan untuk meningkatkan curah hujan dan menjaga kelembapan lahan gambut.

"BMKG akan terus memonitor, memprediksi, mendiseminasikan data, dan berkolaborasi dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Saat ini sinergi antarlembaga berjalan sangat baik dalam upaya penanganan karhutla," ujar Faisal.

BMKG mencatat, pelaksanaan OMC di berbagai wilayah telah memberikan hasil positif, seperti peningkatan curah hujan secara signifikan dan penurunan potensi titik panas di daerah rawan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa pemerintah memberikan perhatian serius terhadap upaya pencegahan karhutla. Ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah dan terus memperkuat langkah mitigasi.

"Seluruh komponen bangsa harus meningkatkan mitigasi dan kerja sama agar Karhutla dapat ditekan hingga seminimal mungkin, bahkan menuju zero Karhutla,” tegas Djamari.

Ia juga menginstruksikan pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, logistik, serta sistem komando lapangan. Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi faktor kunci dalam efektivitas penanganan di lapangan.

"Pemerintah berkomitmen untuk mengedepankan pencegahan, deteksi dini, serta respons cepat dalam menghadapi potensi karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan Barat," tuturnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya