BMKG: Jawa Barat Alami Musim Kemarau 2026 Lebih Awal

Bayu Anggoro
14/4/2026 16:53
BMKG: Jawa Barat Alami Musim Kemarau 2026 Lebih Awal
Warga mengendarai sepeda motor melintas di dekat sawah yang mengering di Balongan, Indramayu, Jawa Barat.(Dok. Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Jawa Barat akan dilanda kekeringan ekstrem pada tahun ini. Musim kemarau 2026 datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang serta kondisi yang jauh lebih kering dibanding biasanya.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira, menjelaskan, fenomena ini sudah mulai terlihat di beberapa daerah Jawa Barat sejak Maret lalu. Wilayah utara seperti Bekasi dan Karawang bagian utara menjadi yang pertama merasakan musim kemarau.

​"Memasuki April ini, giliran Karawang bagian tengah, Subang tengah, hingga sebagian Indramayu yang mulai mengalami penyusutan curah hujan," kata Vivi di Bandung, Selasa (14/4). Berdasarkan pemetaan BMKG, sebanyak 56% wilayah di Jawa Barat baru akan masuk periode kemarau pada Mei mendatang.

Sedangkan wilayah Bandung Raya serta sebagian besar Bogor, Sukabumi, hingga Pangandaran baru akan kemarau pada bulan Juni. Vivi menyebut terdapat anomali signifikan pada siklus cuaca tahun ini yakni sebanyak 66% wilayah Jabar mengalami kemarau yang datang lebih cepat dari jadwal semestinya.

​"Tahun 2026 ini, sebanyak 93% wilayah Jawa Barat akan mengalami musim kemarau yang sangat kering. Hanya 7% wilayah yang masuk kategori normal," katanya.

​Adapun puncak kekeringan diprediksi akan terjadi di 90% wilayah Jawa Barat pada bulan Agustus. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi mengingat durasi kemarau yang panjang dapat memicu krisis air bersih yang meluas.

Maka dari itu, BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi fenomena tersebut. Salah satu yang terpenting adalah optimalisasi operasional waduk dan bendungan.

Para petani pun diminta untuk tidak memaksakan pola tanam konvensional. "Kami mengimbau petani segera menyesuaikan kalender tanam. Hindari puncak kemarau dan beralihlah ke varietas tanaman yang tahan kekeringan serta memiliki umur pendek," katanya seraya meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran besar di tengah cuaca ekstrem yang kering dan panas ini. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner