PLTSa Dinilai Bisa Jadi Solusi Atasi Sampah dan Hasilkan Energi Terbarukan

Atalya Puspa    
13/4/2026 13:39
PLTSa Dinilai Bisa Jadi Solusi Atasi Sampah dan Hasilkan Energi Terbarukan
r: Foto udara pekerja mengoperasikan ekskavator di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (8/4/2026).(ANTARA FOTO/Hasrul Said)

RENCANA pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Guru Besar IPB University Arief Sabdo Yuwono menilai pengolahan sampah menjadi energi merupakan solusi strategis untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi baru terbarukan.

Menurutnya, rencana pembangunan PLTSa di TPPAS Galuga, Kabupaten Bogor, dapat menjadi salah satu langkah konkret dalam mengatasi persoalan sampah di wilayah tersebut, sekaligus mendorong pemanfaatan energi alternatif.

Ia mencontohkan keberhasilan pengelolaan sampah menjadi listrik di TPA Benowo, Surabaya. Di lokasi tersebut, sekitar 1.600–1.800 ton sampah per hari mampu menghasilkan listrik hingga 12 megawatt.

“Kalau rata-rata sampah yang masuk 1.700 ton per hari, maka efisiensinya sekitar 7 watt per kilogram,” ujarnya.

Menurut Arief, jika teknologi yang digunakan lebih maju, pengalaman di Surabaya dapat menjadi referensi awal bagi pengembangan proyek serupa di berbagai daerah, termasuk di Bogor.

Ia menegaskan, keberhasilan PLTSa sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.

“Selama pemilahan sampah dibantu masyarakat dari tempat asal, seperti kawasan pendidikan, perkantoran, rumah sakit, dan restoran, maka produksi listrik akan lebih efektif dan efisien. Pemilahan sampah dari tempat asal adalah faktor kunci,” jelasnya.

Ketentuan pengelolaan sampah rumah tangga sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Namun, implementasinya di lapangan dinilai masih belum optimal.

Selain itu, ia mengingatkan adanya tantangan dalam pengembangan PLTSa di Indonesia, yakni tingginya kadar air pada sampah akibat curah hujan tinggi, termasuk di wilayah Bogor, yang dapat menurunkan efisiensi listrik yang dihasilkan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya