BRIN Kembangkan Teknologi Sampah Jadi Listrik, Mampu Kurangi Volume hingga 80 Persen

Atalya Puspa    
16/4/2026 14:40
BRIN Kembangkan Teknologi Sampah Jadi Listrik, Mampu Kurangi Volume hingga 80 Persen
Pemulung memilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025).(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

DI tengah krisis pengelolaan sampah perkotaan yang kian mendesak, Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah berlabel Merah Putih di Bantargebang. Teknologi ini diklaim mampu mengurangi volume sampah hingga 80 persen sekaligus mengubahnya menjadi energi listrik.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wiharja menjelaskan, cara kerja sistem ini secara sederhana. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah dan dikeringkan untuk meningkatkan nilai kalor, lalu dibakar dalam tungku untuk menghasilkan panas yang menggerakkan turbin dan generator. 

Gas hasil pembakaran disaring melalui serangkaian alat pengendali emisi sesuai baku mutu Kementerian Lingkungan Hidup.

"Pendekatan ini mampu mengolah dan mengurangi volume sampah secara cepat dan signifikan hingga 80 persen sekaligus mengonversinya menjadi energi," ujar Wiharja, Kamis (16/4).

Fasilitas pilot ini telah dikembangkan BRIN sejak 2017 sebagai pembuktian bahwa sampah domestik Indonesia bisa diolah menggunakan teknologi dalam negeri. 

Dibangun dengan kapasitas pengolahan 100 ton sampah per hari, fasilitas ini sempat dikelola bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2018–2022. 

Listrik yang dihasilkan sebesar 700 kilowatt seluruhnya digunakan untuk kebutuhan internal karena statusnya masih pilot project dan belum berskala komersial. Potensinya jauh lebih besar jika dikembangkan penuh. 

Wiharja menyebut kota besar seperti Jakarta berpotensi menghasilkan puluhan megawatt dari sampah, bergantung pada volume dan karakteristiknya.

"Dalam skala pengembangan penuh, potensi energi dari sampah perkotaan di kota besar seperti Jakarta dapat mencapai puluhan megawatt, tergantung pada volume dan karakteristik sampah," ungkapnya.

Teknologi insinerasi yang menjadi dasar PLTSa ini bukan hal baru di dunia. Berdasarkan data Bank Dunia dan UNEP, teknologi ini menguasai 78–79 persen pasar waste to energy global dan telah lama diterapkan di Jerman, Prancis, Jepang, China, dan Singapura. 

Yang membedakan versi BRIN adalah adaptasinya terhadap karakteristik sampah Indonesia yang umumnya memiliki kadar air tinggi dan belum terpilah dengan baik.

Wiharja mengingatkan bahwa keberhasilan adopsi teknologi ini di kabupaten dan kota membutuhkan beberapa prasyarat, mulai dari ketersediaan dan kualitas pasokan sampah, kesiapan investasi awal dan biaya operasional, hingga penerimaan sosial dari masyarakat sekitar.

"Keberhasilan implementasi PLTSa memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya