Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penemuan mengejutkan dari laboratorium geokimia berpotensi mengubah peta industri energi dunia. Para peneliti menemukan kandungan lithium tersembunyi di dalam pirit, mineral yang sering dijuluki "emas palsu", pada batuan serpih (shale) kuno. Temuan ini membuka peluang ekstraksi lithium dari limbah industri yang sudah ada, sekaligus mengurangi kebutuhan akan pembukaan tambang baru yang merusak lingkungan.
Lithium merupakan komponen inti dari baterai lithium-ion yang menggerakkan hampir semua teknologi modern, mulai dari ponsel pintar hingga kendaraan listrik (EV). Sifatnya yang ringan dan sangat reaktif memungkinkan penyimpanan serta pelepasan energi secara efisien. Namun, seiring ambisi dunia beralih ke energi bersih, permintaan terhadap logam ini melonjak tajam, melampaui kapasitas pasokan dari sumber tambang konvensional.
Tim peneliti dari West Virginia University melakukan investigasi di wilayah timur Amerika Serikat, tepatnya di Cekungan Appalachian. Mereka menganalisis 15 sampel batuan serpih dari era Devonian Tengah, yang terbentuk sekitar 380 juta tahun lalu.
Hasilnya di luar dugaan. Shailee Bhattacharya, seorang ahli geokimia sedimen dan mahasiswa doktoral yang bekerja bersama Profesor Shikha Sharma, menemukan jumlah lithium yang signifikan di dalam pirit pada batuan tersebut.
"Hal ini belum pernah terdengar sebelumnya," ujar Bhattacharya dalam laporannya.
Temuan ini menonjol karena selama ini hampir tidak ada literatur geologi yang menghubungkan lithium dengan mineral kaya belerang seperti pirit. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya fokus pada deposit batuan beku atau tanah liat vulkanik.
Jika temuan ini terbukti konsisten secara global, batuan serpih yang kaya bahan organik dapat menjadi kategori sumber daya lithium baru yang melimpah. Salah satu prospek paling menarik adalah kemampuan untuk memulihkan lithium dari material sisa kegiatan industri masa lalu, seperti limbah pengeboran atau limbah tambang (tailings).
Memanfaatkan limbah sebagai sumber lithium akan jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan metode penambangan tradisional yang memakan biaya besar dan berdampak buruk bagi ekosistem.
Namun, Bhattacharya memberikan catatan bahwa penelitian ini masih dalam tahap awal. "Ini adalah studi yang sangat spesifik untuk satu wilayah," peringatnya, merujuk pada perlunya penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah pola serupa ditemukan di lokasi lain.
Meski demikian, penemuan ini memberikan harapan baru bagi transisi energi yang lebih hijau.
"Kita bisa bicara tentang energi berkelanjutan tanpa harus menghabiskan banyak sumber daya energi," ujar Bhattacharya.
Langkah selanjutnya bagi tim peneliti adalah memahami mekanisme bagaimana lithium dan pirit bisa terikat secara geologis. Jika misteri ini terpecahkan, "emas palsu" mungkin akan menjadi kunci utama dalam mengamankan masa depan baterai dunia. (Science Daily/Z-2)
Banyak pengguna smartphone yang masih percaya bahwa mengisi daya hingga 100% dapat merusak baterai. Mitos ini beredar luas di media sosial.
Peneliti Hong Kong ciptakan elektrolit baru untuk cegah ledakan baterai lithium-ion tanpa kurangi performa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved