API Dorong Pemanfaatan Energi Panas Bumi Lewat IIGCE 2026

Insi Nantika Jelita
08/4/2026 13:23
API Dorong Pemanfaatan Energi Panas Bumi Lewat IIGCE 2026
Konferensi pers penyelenggaraan IIGCE 2026.(MI/Insi Nantika Jelita)

Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) atau Indonesian Geothermal Association (Inaga) berupaya mengakselerasi pemanfaatan energi panas bumi melalui penyelenggaraan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Acara ini akan digelar pada 19-21 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Forum berskala internasional ini ditujukan untuk mempercepat pengembangan panas bumi sebagai sumber baseload utama guna mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi Indonesia, dengan menghadirkan lebih dari 100 pembicara global dan diikuti ribuan profesional dari berbagai negara.

Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) Julfi Hadi menegaskan energi panas bumi memiliki peran krusial dalam mendorong transisi energi sekaligus menjamin ketahanan energi nasional. Menurutnya, momentum pengembangan geothermal saat ini menjadi sangat penting di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dorongan untuk memperkuat sektor energi dinilai jauh lebih kuat, terutama dengan adanya dinamika politik global seperti konflik di Iran dan Ukraina. Kondisi tersebut membuat isu ketahanan energi menjadi semakin mendesak, sehingga Indonesia perlu memprioritaskan pemanfaatan sumber daya domestik (indigenous resources) yang bersifat baseload, salah satunya adalah geothermal.

Selain itu, Julfi juga menyoroti semakin mendesaknya tantangan perubahan iklim. Ia bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai climate catastrophe yang menuntut percepatan transformasi energi di Indonesia. Energi panas bumi dinilai sebagai solusi strategis karena merupakan sumber energi bersih, stabil, dan berasal dari potensi dalam negeri.

"Langkah fundamentalnya bagaimana bisa mengekselerasi potensi panas bumi," ujarnya dalam acara press conference launching IIGCE 2026 di Jakarta, Rabu (8/4).

Julfi menilai masalah utama pengembangan panas bumi di Indonesia selama ini terletak pada aspek komersial. Hal tersebut sebenarnya sudah dipahami bersama oleh para pelaku industri. Pada 2024, API bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta konsultan telah melakukan perhitungan ulang terkait tingkat keekonomian proyek panas bumi. 

Perhitungan tersebut mengacu pada skema harga yang adil sejak 2012, termasuk tingkat pengembalian (return) yang diatur dalam regulasi, ekspektasi return dari pihak pengembang (IPP), serta kesenjangan yang masih terjadi. Dengan demikian, persoalan utama yang dihadapi industri ini dinilai sudah sangat jelas.

Berdasarkan pengalaman lebih dari 40 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia, terdapat sejumlah faktor kunci yang dapat mendorong percepatan sektor ini. Salah satu yang paling utama adalah kolaborasi. Kolaborasi diperlukan tidak hanya antar pengembang (IPP), tetapi juga antara IPP dengan perusahaan jasa (service company), serta antara pelaku usaha dengan pemerintah. Dalam hal ini, peran pemerintah mencakup Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), hingga Dewan Energi Nasional (DEN). Dengan kolaborasi yang kuat di seluruh rantai ekosistem tersebut, hambatan utama berupa aspek komersial yang selama ini menjadi bottleneck diharapkan dapat teratasi dan memicu percepatan pengembangan panas bumi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, terdapat dua pendekatan utama yang dapat dilakukan, yakni melalui peran pemerintah dan pelaku usaha. Dari sisi pemerintah, diperlukan insentif yang lebih aplikatif (workable incentive) serta penyesuaian tarif yang mampu meningkatkan keekonomian proyek. 

Salah satu yang diharapkan dalam ajang IIGCE adalah penguatan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor (Perpres) 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

"Ini dengan fokus pada perbaikan skema tarif dan insentif yang lebih menarik bagi investor," kata Julfi.

Sementara itu, lanjutnya, dari sisi pengembang panas bumi, upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan efisiensi, terutama melalui penurunan belanja modal (capex) serta optimalisasi produksi. Namun, penurunan capex tidak cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional yang hanya menghasilkan efisiensi terbatas. 

Menurutnya, diperlukan terobosan (breakthrough), baik melalui strategi kontrak jangka panjang, inovasi dalam manufaktur, penerapan teknologi, maupun pendekatan lainnya. Di sisi lain, optimalisasi produksi juga menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja proyek secara keseluruhan.

"Melalui IIGCE 2026, kami ingin memperkuat kolaborasi global untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang pengembangan panas bumi di Indonesia dan dunia," tegas Julfi.

Mengusung tema Energy Self-Sufficiency for a Stronger Indonesia: Geothermal as The Baseload Driving Energy Transition and Security", IIGCE 2026 hadir di tengah momentum krusial transisi energi nasional yang mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pemanfaatan potensi panas bumi.

Forum ini akan menjadi ruang diskusi strategis yang membahas berbagai isu penting, mulai dari inovasi teknologi eksplorasi dan pengeboran, skema pembiayaan berkelanjutan, kebijakan yang mendukung daya saing industri, hingga kontribusi panas bumi terhadap target net-zero emission Indonesia. Selain itu, forum ini juga dirancang untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret dan mendorong kemitraan strategis antara pelaku industri dalam dan luar negeri.

Pemerintah menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan forum tersebut. 
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyampaikan panas bumi adalah kunci utama dalam transisi energi dan ketahanan energi Indonesia menuju 2045. 

"IIGCE 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menampilkan komitmen dan capaian nyata pengembangan panas bumi kepada dunia," tuturnya. 

Selama tiga hari pelaksanaan, IIGCE 2026 akan menghadirkan konferensi tingkat tinggi, diskusi panel interaktif, pameran teknologi, serta berbagai kegiatan pendukung seperti business matching, workshop teknis, dan sesi networking.

Ketua Panitia Pelaksana IIGCE 2026 Aditya Rakit mengatakan agenda tersebut  tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga tempat lahirnya kemitraan strategis, kesepakatan investasi.

"Dan solusi inovatif bagi tantangan pengembangan panas bumi global," ucapnya.

Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Indonesia diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek panas bumi strategis, menarik investasi berkualitas, serta membangun sumber daya manusia yang kompeten di sektor energi terbarukan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya