Kasus Campak Turun di Akhir Maret, Vaksinasi Tetap Digenjot

Atalya Puspa    
08/4/2026 16:10
Kasus Campak Turun di Akhir Maret, Vaksinasi Tetap Digenjot
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi(ANTARA)

KEMENTERIAN Kesehatan melaporkan tren penurunan kasus campak mulai terlihat pada akhir Maret 2026, setelah sebelumnya terjadi lonjakan tajam di awal tahun. Penurunan ini dinilai sebagai dampak dari pelaksanaan imunisasi massal yang digencarkan sejak awal Maret.

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus campak sempat mencapai puncaknya pada minggu pertama Januari 2026 dengan 2.932 kasus suspek dan 2.220 kasus terkonfirmasi.

“Penurunan mulai terlihat pada minggu ke-10, dan semakin signifikan pada minggu ke-11 hingga ke-13 atau di akhir Maret,” ujar Nadia dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (8/4). 

Ia menjelaskan, tren penurunan ini sejalan dengan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan imunisasi kejar yang mulai dilakukan secara masif sejak awal Maret 2026 di berbagai daerah.

Program ORI menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya, sementara imunisasi kejar ditujukan untuk melengkapi vaksinasi anak yang belum lengkap. Pelaksanaan dilakukan melalui posyandu, puskesmas, sekolah usia dini, hingga pendekatan door to door.

Meski demikian, Nadia mengingatkan bahwa capaian imunisasi di sejumlah wilayah masih belum optimal. Di beberapa daerah dengan kasus tinggi, seperti Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang, cakupan ORI masih berada di bawah target yang ditetapkan.

“Kita masih perlu akselerasi karena cakupan di sejumlah wilayah belum mencapai target minimal,” katanya.

Kemenkes mencatat terdapat 14 provinsi dengan kasus campak tertinggi sepanjang 2025 hingga 2026, di antaranya Aceh, Jawa Timur, Banten, serta sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan. 

Rendahnya cakupan imunisasi serta penolakan vaksin disebut menjadi faktor utama tingginya kasus di daerah tersebut. 

Selain mempercepat vaksinasi pada anak, pemerintah juga tengah menyiapkan pemberian vaksin campak-rubella (MR) bagi tenaga kesehatan yang dinilai memiliki risiko tinggi tertular, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kemenkes juga telah menginstruksikan seluruh daerah untuk memperkuat sistem surveilans, meningkatkan cakupan imunisasi hingga tingkat desa, serta memastikan setiap kasus campak dilaporkan dalam waktu kurang dari 24 jam.

“Penurunan ini harus dijaga dengan memastikan cakupan imunisasi merata dan mencapai target, agar penularan tidak kembali meningkat,” ujar Nadia.

Pemerintah berharap, dengan kombinasi imunisasi massal dan penguatan kewaspadaan, penyebaran campak dapat terus ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa di berbagai daerah. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya