Mengerikan! Ratusan Ribu Warga RI Kena Kanker Tiap Tahun, Ekonomi Ikut Terancam

Cahya Mulyana
15/4/2026 16:59
Mengerikan! Ratusan Ribu Warga RI Kena Kanker Tiap Tahun, Ekonomi Ikut Terancam
ilustrasi.(Freepik.)

PRESIDEN Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay menyebut penanganan kanker di Indonesia membutuhkan strategi yang progresif, terintegrasi, dan berorientasi pada pasien.

"Kesehatan masyarakat tidak lagi dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, kanker muncul sebagai salah satu ancaman paling nyata, tidak hanya bagi kualitas hidup masyarakat, tetapi juga bagi produktivitas dan ketahanan ekonomi negara," kata Esra dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Mengutip data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Esra menyampaikan bahwa ada sekitar 408.661 kasus baru kanker dengan lebih dari 242.000 kematian setiap tahunnya di Indonesia.

Kementerian Kesehatan turut memperkirakan bahwa tanpa intervensi yang lebih kuat, jumlah kasus kanker di Indonesia dapat meningkat hingga lebih dari 70% pada 2050. Tren ini menegaskan bahwa penanganan kanker tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional.

Tren itu, katanya, tidak hanya menjadi tantangan statistik, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan sistem kesehatan. Banyak pasien kanker mengalami penurunan kualitas hidup, kehilangan kemampuan bekerja, hingga tekanan finansial yang berat.

Dari pihak keluarga yang harus menguras tabungan, bahkan menjual aset, demi membiayai pengobatan jangka panjang. Dalam skala yang lebih luas, kondisi ini turut menekan produktivitas nasional dan memperbesar beban ekonomi negara.

"Tanpa langkah intervensi yang lebih progresif, beban kanker berpotensi menjadi silent barrier bagi pencapaian Indonesia Emas 2045, melemahkan fondasi pembangunan melalui meningkatnya beban penyakit, menurunnya produktivitas tenaga kerja, dan membengkaknya biaya kesehatan jangka panjang," ujarnya.

Maka dari itu, Esra menilai pemerintah perlu menggencarkan deteksi dini guna memperlebar peluang keberhasilan terapi, sekaligus meminimalisasi kompleksitas dan biaya pengobatan.

Skrining kesehatan perlu didorong menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat, sekaligus membuka akses terhadap pengobatan terkini, dan jaminan pembiayaan agar manfaat diagnosis dini dapat benar-benar diterjemahkan menjadi hasil pengobatan yang optimal.

Dari sisi akses obat, Esra menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan sudah berkembang dan menghadirkan berbagai terobosan baru. Sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa pada kanker paru dengan mutasi tertentu, terapi target mampu menekan perkembangan penyakit secara lebih efektif, sehingga pasien dapat hidup lebih lama dengan kondisi yang lebih baik.

"Namun, kemajuan ini hanya akan bermakna apabila dapat diakses oleh pasien yang membutuhkan. Oleh karena itu, akses terhadap terapi dan obat inovatif perlu dipandang sebagai bagian dari pemenuhan hak pasien untuk mendapatkan pengobatan terbaik," katanya.

Hal ini, dikatakannya, membutuhkan dukungan kebijakan yang memungkinkan adopsi inovasi medis secara lebih cepat, merata, dan berkelanjutan di dalam sistem kesehatan. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya