Kasus Campak di DIY di Atas Angka 100

Ardi Teristi Hardi
19/4/2026 18:33
Kasus Campak di DIY di Atas Angka 100
Ilustrasi(Freepik.com)

DINAS Kesehatan DIY mencatat 112 kasus campak ditemukan di DIY hingga April 2026. Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi menyebut, salah satu penyebabnya adalah pergerakan masyarakat yang masif ke Yogyakarta pada masa liburan dan Lebaran, 

"Data 6 April kemarin sekitar 112 kasus dari sebelumnya sekitar 96 kasus," ungkap dia. Merespon hal tersebut, pihaknya pun terus melakukan pemantauan ketat, yang salah satunya lewat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Kekebalan kelompok (herd immunity) di DIY terbilang tinggi karena vaksinasi MR dosis pertama di DIY mencapai 98 persen dan dosis kedua sekitar 96 persen. Hingga saat ini tidak ada kasus campak yang menyebabkan kematian di DIY. 

Sebelumya, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. H. M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes, menilai, kasus campak di DIY masih dapat dikendalikan dan terus dipantau.

Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya kasus campak adalah masih adanya anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Kondisi ini diperparah dengan adanya penundaan imunisasi selama masa pandemi serta keraguan sebagian masyarakat terhadap vaksinasi.

“Faktor utama biasanya adalah cakupan imunisasi yang belum merata. Masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, ditambah adanya penundaan imunisasi pada masa pandemi, serta sebagian orang tua yang masih ragu terhadap vaksinasi," ungkap dia.

Ketika ada kelompok anak yang tidak terlindungi atau tidak tervaksinasi, virus campak akan sangat mudah menyebar karena penyakit ini memang sangat menular.

Gejala Awal

Campak, lanjut dia, memiliki gejala awal yang sering kali menyerupai penyakit infeksi lainnya. Gejala tersebut biasanya dimulai dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta mata merah. Setelah beberapa hari, muncul ruam kemerahan pada kulit yang biasanya bermula dari wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

“Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi, terutama pada bayi dan anak dengan daya tahan tubuh yang rendah. Komplikasi tersebut dapat berupa infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, diare berat, hingga gangguan pada sistem kekebalan tubuh,” terang dia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat dapat dicegah. Upaya pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi campak, baik vaksin MR maupun MMR, yang diberikan secara lengkap dan tepat waktu kepada anak.

Edukasi kepada masyarakat untuk mengatasi berbagai misinformasi mengenai vaksin sangat penting dilakukan. Menurutnya, pemerintah bersama tenaga kesehatan terus melakukan sosialisasi melalui berbagai saluran seperti puskesmas, posyandu, sekolah, hingga media.

“Strateginya adalah memberikan edukasi secara konsisten kepada masyarakat. Pemerintah dan tenaga kesehatan bekerja melalui puskesmas, rumah sakit, posyandu, serta sekolah untuk menyampaikan informasi yang benar mengenai manfaat dan keamanan imunisasi," tutup dia.  (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya