Menyikapi Situasi Campak di Indonesia, Kewaspadaan dan Imunisasi Lengkap Jadi Kunci

Syarief Oebaidillah
21/4/2026 20:59
Menyikapi Situasi Campak di Indonesia, Kewaspadaan dan Imunisasi Lengkap Jadi Kunci
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Peningkatan kasus suspek campak di Indonesia pada awal 2026 menjadi pengingat bahwa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi ini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dalam periode tersebut, dilaporkan lebih dari 8.000 kasus suspek campak, disertai 21 kejadian luar biasa di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi. Dari jumlah itu, sejumlah kejadian luar biasa telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Situasi ini menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap campak tidak boleh menurun. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan individu dengan kondisi gizi yang kurang baik. Karena itu, upaya pencegahan perlu terus diperkuat melalui imunisasi, deteksi dini, serta edukasi kesehatan yang konsisten kepada masyarakat.

Dalam keterangannya aktivis kesehatan dr. Relly Reagen menjelaskan bahwa campak bukanlah penyakit ringan yang bisa dianggap sepele. Menurutnya, campak merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan baik. “Campak sering kali diawali dengan gejala yang mirip flu, seperti demam, pilek, batuk, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas. Namun yang membedakan, campak biasanya disertai ruam kemerahan yang menyebar di tubuh. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada dan tidak menganggap gejala tersebut sebagai flu biasa, terutama jika terjadi pada anak,” ujar dr. Relly.

Ia menambahkan, tingginya tingkat penularan campak menjadi alasan mengapa penyakit ini dapat menyebar dengan cepat apabila tidak diantisipasi sejak awal. "Virus campak menular melalui percikan ludah saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi, lalu menyentuh hidung atau mulutnya. Karena sifat penularannya yang sangat tinggi, pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih penting,” kata dr. Relly.

Lebih lanjut, dr. Relly menegaskan bahwa campak dapat menimbulkan dampak yang berat, khususnya pada anak-anak dan kelompok dengan daya tahan tubuh lemah. “Campak tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga bisa berujung pada komplikasi serius seperti infeksi paru-paru, radang otak, bahkan kematian. Risiko ini lebih besar pada anak kecil dan individu dengan status gizi yang kurang baik. Karena itu, pencegahan melalui imunisasi menjadi sangat penting,” ujarnya.

Salah satu langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak memperoleh imunisasi campak sesuai jadwal. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, asupan gizi seimbang, serta istirahat yang cukup juga menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh. dr. Relly mengingatkan bahwa apabila anak sudah terinfeksi campak, orang tua tetap perlu memberikan perawatan suportif yang tepat sambil memantau kondisi anak secara seksama. “Orang tua perlu memastikan anak cukup minum, cukup istirahat, dan memperoleh penanganan demam sesuai anjuran dokter. Bila kondisi anak memburuk atau muncul tanda komplikasi, maka harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Dalam pengendalian campak, lanjut dr. Relly, tanggung jawab tidak hanya berada pada keluarga, tetapi juga memerlukan keterlibatan seluruh ekosistem layanan kesehatan. Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer menjadi garda terdepan dalam imunisasi, deteksi dini, dan pelaporan kasus, sementara rumah sakit berperan dalam menangani pasien dengan komplikasi berat. Produsen farmasi dan alat kesehatan juga memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan vaksin dan logistik pendukung.

“Penanganan campak membutuhkan kerja bersama. Puskesmas, fasilitas kesehatan primer, rumah sakit, produsen farmasi, dan pemerintah harus bergerak secara sinergis. Jika salah satu mata rantai lemah, maka pengendalian campak secara menyeluruh akan menjadi lebih sulit,” ujar dr. Relly.

Pemerintah, menurutnya, juga perlu terus memperkuat pencegahan melalui imunisasi rutin dan kejar, respons cepat saat terjadi wabah, penguatan surveilans, serta komunikasi publik yang konsisten untuk melawan hoaks terkait vaksinasi. Di tengah tantangan berupa menurunnya cakupan imunisasi pascapandemi dan tingginya mobilitas penduduk, dr. Relly menilai partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor yang sangat menentukan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya