Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal tren kini menjadi tantangan nyata dalam pola asuh anak di era digital. Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., menjelaskan bahwa perasaan ini, termasuk tekanan teman sebaya (peer pressure*, merupakan bagian wajar dari fase perkembangan anak.
"Perasaan FOMO atau bahkan peer pressure adalah sesuatu yang sangat wajar pada fase ini," ujar Ratriana, dikutip Kamis (19/2).
Menurut Ratriana, pada masa praremaja dan remaja, fokus kehidupan anak mulai bergeser. Jika sebelumnya pusat dunia mereka adalah keluarga, kini pengaruh sekolah dan teman sebaya menjadi jauh lebih dominan.
Hal ini diperumit oleh kondisi biologis ketika perkembangan emosi remaja sering kali tidak berjalan beriringan dengan kematangan logika.
Anak sedang aktif membangun jati diri, namun proses ini belum sepenuhnya diimbangi oleh perkembangan otak yang berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, pertimbangan risiko jangka panjang, serta pengendalian dorongan emosi.
"Jadi biasanya emosi mulai lebih bergejolak, mereka mulai lebih penasaran, lebih berani mencoba hal baru dan bisa jadi cenderung lebih impulsif atau tidak berpikir panjang dalam bertindak," ucap psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi tersebut.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga. Rasa diterima dan kepercayaan diri yang dibawa dari rumah akan menjadi modal utama anak saat menghadapi dunia luar.
Ketika anak merasa diterima secara utuh oleh orangtuanya, relasi yang terbangun akan menjadi hangat dan kuat.
Hal inilah yang kemudian membentuk prinsip dan nilai hidup yang kokoh pada diri anak. Rasa percaya diri tersebut diposisikan sebagai jangkar agar remaja tidak mudah terombang-ambing oleh arus tren atau tekanan lingkungan sosialnya.
Ratriana menekankan bahwa meskipun anak sudah dibekali kepercayaan diri, rasa takut dikucilkan tetap merupakan perasaan yang valid. Oleh karena itu, langkah pertama yang wajib dilakukan orangtua adalah melakukan validasi emosi.
"Orangtua perlu menyampaikan pada anak bahwa emosi yang mereka rasakan itu wajar dan nyata adanya, sehingga anak merasa didengar," katanya.
Selanjutnya, orangtua disarankan untuk:
Dengan kombinasi validasi emosi dan penguatan relasi di rumah, remaja akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi fenomena FOMO di lingkungan mereka. (Ant/Z-1)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Roblox resmi membuka Teen Council Asia 2026. Remaja Indonesia usia 14-17 tahun diajak berkontribusi dalam keamanan digital. Simak syarat dan cara daftar.
Gagal ginjal kini banyak menyerang usia muda akibat pola hidup tidak sehat. Kenali gejala, penyebab, dan cara mencegahnya sejak dini agar tidak berujung cuci darah.
Roblox ajak remaja Indonesia usia 14-17 tahun gabung Teen Council Asia. Simak syarat, jadwal pendaftaran, dan misi keamanan digital di sini.
PkM melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SIJB untuk pencegahan dan penanganan segera bagi siswa yang menunjukkan adanya permasalahan.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan untuk mencegah penggunaan vape pada remaja di tengah masifnya promosi.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Psikolog Sani Budiantini menekankan pentingnya kesiapan mental orangtua dalam menghadapi reaksi anak saat implementasi PP Tunas dan pembatasan gawai.
Roblox memperkenalkan Roblox Kids dan Roblox Select di Indonesia untuk melindungi pengguna di bawah 16 tahun dengan kontrol orang tua yang lebih ketat.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Pengumuman SNBP 2026 memicu refleksi mendalam bagi orang tua. Fokus kini bergeser dari sekadar nama besar kampus ke relevansi kurikulum dan kesiapan kerja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved