Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi yang dilakukan Pew Research Center, peneliti menemukan 69% orangtua merasa dunia saat ini lebih keras terhadap remaja dibandingkan remaja 20 tahun lalu. Sedangkan 44% remaja merasakan hal yang sama. Survei itu dilakukan terhadap 1.453 orangtua dari remaja.
Penelitian ini berisi berbagai aspek kehidupan remaja, seperti tekanan sosial, kekerasan, keadaan dunia, dan banyak lagi. Namun, alasan terbesar mengapa para orangtua merasa kehidupan remaja saat ini lebih sulit adalah media sosial, dengan 41% mengatakan bahwa media sosial adalah penyebab stres terbesar.
Menjadi seorang remaja tidak pernah benar-benar mudah. Mereka harus menghadapi perubahan hormon, mengelola hubungan pertemanan yang kompleks, dan mencari jati diri mereka sendiri. Namun, dunia saat ini sangat berbeda dibandingkan dua dekade yang lalu, terutama karena pengaruh internet.
Baca juga : Algoritma Media Sosial Ini menodai otak Anda
Jeffrey Gottfried, direktur riset di Pew Research Center dan salah satu peneliti dalam studi baru ini, mengatakan kepada orangtua studi ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang dilakukan para peneliti tentang adopsi teknologi di kalangan remaja.
“Remaja adalah pengguna terdepan dalam hal teknologi, perangkat baru, dan platform online,” katanya, menjadikan mereka sebagai kelompok yang penting untuk dipelajari. Gottfried beranggapan, penting untuk memasukkan suara remaja ke dalam penelitian ini.
Seorang gadis remaja yang menjadi bagian dari penelitian ini menyimpulkan dengan ringkas, dalam studi ini menggambarkan perasaan tersebut dengan jelas, mengatakan bahwa “Media sosial memberi tahu anak-anak apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Jika Anda tidak mengikutinya, Anda akan dianggap aneh dan dikucilkan oleh banyak orang.”
Baca juga : Masuki Era the Attention Economic, Remaja dan Perempuan Rawan Terobsesi atas Penampilan
Meski begitu, internet memiliki kelebihan. Maksud saya, tidak ada lagi orang yang mengemudi dengan petunjuk arah Mapquest yang dicetak di pangkuannya. Anak-anak bisa mencari jawaban atas pertanyaan di Google dalam hitungan detik, atau berbicara dengan kakek-nenek mereka di seluruh dunia. Para remaja mengakui dalam beberapa hal, mereka memang lebih mudah.
Meskipun hasil penelitian ini tidak mengejutkan bagi Gottfried, fakta remaja menunjuk teknologi sebagai sesuatu yang membuat hidup mereka lebih sulit dan lebih mudah adalah hal yang menarik. Meskipun jawaban yang diberikan beragam, secara keseluruhan sentimen di antara para remaja adalah mereka merasa teknologi membuat hidup mereka lebih sulit.
Menurut para remaja, media sosial membuat konflik semakin rumit dan bertahan lebih lama. Ketika teman bertengkar atau berselisih, serangan online sering membuat masalah tidak kunjung selesai. Konflik tidak hanya terjadi di sekolah atau tempat umum, tetapi juga terus berlanjut secara online, sehingga remaja merasa tidak ada tempat yang aman untuk menghindar.
Baca juga : Di Balik Tren Pick Me, Mengapa Remaja Berusaha Terlihat Berbeda?
Susanna Park, pakar kesehatan masyarakat di aplikasi kesehatan Skylight, mengatakan kepada orangtua cyberbullying merajalela, dengan 46% remaja berusia 13-17 tahun melaporkan mereka pernah mengalaminya.
"Ini adalah masalah kesehatan masyarakat karena korban cyberbullying hampir 2,5 kali lebih mungkin melaporkan keluhan psikosomatik (penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan lain-lain) dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami cyberbullying," jelas Park.
Titania Jordan, penulis buku "Parenting in a Tech World" dan Chief Parent Officer di Bark, sebuah platform yang membantu melindungi anak-anak secara online, mengatakan perilaku buruk di internet terjadi karena anak-anak tumbuh di dunia di mana anonimitas online dianggap biasa dan diterima. Dia menambahkan meskipun tindakan online mungkin terlihat sepele, dampaknya bisa sangat besar, terutama bagi remaja yang sudah menghadapi banyak perubahan dan rasa tidak aman.
Baca juga : Apa yang Dimaksud dengan Sadfishing dan Mengapa Remaja Melakukannya?
Dalam dunia digital yang hampir tidak terhindarkan bagi remaja saat ini, Titania Jordan mengungkapkan beberapa strategi untuk membantu mereka menghindari jebakan negatif online.
Pertama, penting bagi orangtua untuk menetapkan batasan yang jelas untuk anak-anak mereka, mengingat banyaknya paparan media sosial sejak usia dini. Jordan juga menekankan anak-anak perlu memahami bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan di dunia maya bisa disimpan, diambil tangkapan layarnya, atau dibagikan, sehingga kehati-hatian sangat penting.
Jordan merekomendasikan menonton dan membagikan film dokumenter "Childhood 2.0", yang menggambarkan tantangan digital yang dihadapi anak-anak dan remaja saat ini. Di sisi positif, Susanna Park menyarankan pemanfaatan aplikasi kesehatan digital seperti Skylight, yang dirancang untuk membantu remaja mengelola stres, merawat diri, dan menghubungkan diri dengan aspek spiritual mereka.
Menurut Park, lebih dari setengah Generasi Z (55%) yang menggunakan aplikasi kesehatan digital melakukannya secara mandiri, menunjukkan upaya mereka untuk meningkatkan kesehatan mereka.
Seiring dengan perubahan lanskap media sosial, penting bagi orang tua untuk memahami dan berempati terhadap tantangan yang dihadapi anak-anak mereka, yang mungkin berbeda dari pengalaman pribadi mereka. (Parents/Z-3)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Secara ilmiah, stres berkaitan dengan respons tubuh terhadap tekanan yang dikenal sebagai fight or flight response, yaitu reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
STRES tidak selalu muncul dalam bentuk rasa tertekan atau sedih yang jelas.
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved