Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR media sosial Rulli Nasrullah menilai perlu kesiapsiagaan digital dalam bentuk daya tangkal yang kuat, deteksi dini, dan resistensi untuk mencegah penyebaran paham radikal melalui konten di dunia maya.
"Karena itu membangun kesiapsiagaan digital dalam bentuk daya tangkal yang kuat, deteksi dini, dan resistensi terhadap konten radikalisme di media sosial sangat penting untuk ditanamkan kepada generasi bangsa," kata Rulli atau Kang Arul seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin (7/8).
Dia menjelaskan, kasus penipuan, radikalisme dan terorisme dilakukan dengan pendekatan persuasif, tidak hard selling, sehingga ketika pengguna sudah merasa nyaman, maka ditanamkan ide, video dan pendekatan secara perlahan.
Setelah itu, menurut dia, langkah selanjutnya adalah dimasukkan dalam grup-grup diskusi seperti WhatsApp, Telegram, atau layanan pesan yang lain, dan kemudian informasi yang lebih personal.
Kang Arul menekankan bahwa karakter dan tingkat literasi media individu berperan penting untuk menyaring referensi yang dibaca, karena algoritma dalam internet cenderung akan memberikan referensi sesuai dengan apa yang sering dibaca.
"Jika seseorang suka dengan konten konten keras, radikal terorisme dan kebencian maka dengan sendirinya referensi yang muncul akan konten konten sejenis. Namun terkadang, individu itu sendiri yang kurang cakap untuk menyaring filter yang negatif," ujarnya.
Karena itu, dia menilai pentingnya komunikasi orangtua kepada anak, adik kepada kakak, atau sesama teman untuk saling mengingatkan dan mendorong penggunaan media sosial dalam hal yang positif.
Baca juga: Makna dan Nilai Luhur dalam Perumusan Pancasila bagi Bangsa Indonesia
Menurut dia, komunikasi itu untuk meyakinkan bahwa di media sosial merupakan pasar ide bebas, sehingga bisa mendapatkan banyak hal, mulai dari yang positif dan negatif.
Dia juga menilai kondisi emosional seseorang berperan penting terhadap referensi yang dilihatnya, sehingga terkadang orang yang mengakses media sosial dalam situasi yang tidak normal dengan logika waktu cepat, tidak dapat memfilter atau melakukan verifikasi informasi terhadap orang lain atau media massa.
"Ketika sudah mengakses suatu konten, maka seolah-olah itu adalah informasi yang benar, itu yang membuat maraknya hoaks dan misinformasi. Pulang kerja lelah dan ada masalah, jadi ketika mengakses, emosinya lagi tinggi, dapat dengan situasi seperti itu," ujarnya.
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga mengapresiasi kehadiran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Duta Damai dan Duta Damai Santri yang tersebar di 18 provinsi.
Menurut dia, langkah ini perlu dikembangkan ke seluruh provinsi Indonesia agar dapat mengisi ruang digital dengan pesan damai dan hal yang positif.
Kang Arul menyampaikan, setiap relawan Duta Damai maupun Duta Santri mampu memberikan aura terhadap teman-teman, keluarga dan lingkungannya sehingga mampu mendukung tiga unsur penting dalam literasi digital.
Ketiga kecakapan digital tersebut adalah pertama, kecakapan dalam penggunaan media digital, kedua, kecakapan dalam budaya digital, dan
ketiga, kecakapan dalam keamanan digital. (Ant/I-2)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
KPAI menyoroti risiko radikalisme anak di media sosial. Simak peran PP Tunas dan pentingnya pengawasan orang tua dalam melindungi anak di ruang digital.
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved