Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
CENTER for Indonesia Policy Studies (CIPS) menyatakan, kelaparan dan malnutrisi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Tingkat malnutrisi di Tanah Air dinilai relatif tinggi dan perlu untuk segera ditangani.
Merujuk data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019, sebanyak 16,29% balita di Tanah Air mengalami gizi kurang, 27,67% mengalami stunting, dan 7,44% mengalami wasting (kurus).
Kondisi itu kemudian dinilai bertambah berat ketika pandemi covid-19 merebak di Indonesia. Dari laporan UNICEF, pagebluk telah meningkatkan persoalan gizi di Tanah Air akibat naiknya beban berat fasilitas kesehatan, terganggunya rantai pasok makanan, dan persoalan perekonomian.
Di 2021, kembali merujuk data SSGBI, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 5,22 juta. Sedangkan 45% rumah tangga yang ada di Indonesia didapati kesulitan untuk menyediakan makanan bernutrisi di meja makannya.
"Jadi meskipun terjadi penurunan angka stunting tahunan sebesar 2% dari 2013 ke 2021, sebanyak 27 provinsi di Indonesia masih dikategorikan sebagai daerah gizi kronis, di mana stuntingnya lebih dari 20%, dan wasting lebih dari 5%," ujar Kepala Peneliti Bidang Pertanian CIPS Aditya Alta dalam webinar bertajuk Menuju Kemerdekaan dari Kelaparan dan Malnutrisi, Kamis (18/8).
Baca juga: Indonesia Masih Hati-Hati Belum Cabut Status Pandemi
Untuk itu, pemerintah didorong untuk terus mempromosikan pangan sehat, bergizi seimbang, dan aman. Aditnya mengatakan, hal itu memerlukan kombinasi kebijakan perdagangan, edukasi konsumen, regulasi keamanan pangan, hingga peranan pihak swasta seperti melalui penerapan ESG.
Hal yang juga tak kalah penting ialah melakukan peninjauan terhadap dampak kebijakan ketersediaan pangan dan pola konsumsi masyarakat. Sebab, diversifikasi pangan di Tanah Air tergolong cenderung lambat.
Itu karena beras masih mendominasi ketersediaan pangan nasional. Sementara jagung dan olahannya, kacang-kacangan, dan umbi-umbian terus mengalami penurunan porsi konsumsi sejak 2011.
"Indonesia tidak mengalami masalah ketersediaan pangan, karena jumlah kalori yang tersedia per orang terus meningkat setiap tahun. Tapi yang menjadi soal adalah diversifikasi asupan pangan," tutur Aditya. (OL-4)
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini.
Pakar IPB University ingatkan bahaya konsumsi Ultra Processed Food (UPF) berlebih pada anak, mulai dari obesitas hingga risiko penyakit jantung dan stroke.
Dokter spesialis anak ingatkan bahaya konsumsi mie instan dan susu kental manis berlebih bagi anak di pengungsian banjir Sumatra. Simak saran gizinya.
Dietisien RS Pelni menekankan pentingnya protein, sayur, dan buah bagi tumbuh kembang anak serta risiko jangka panjang akibat kurang gizi.
Dr. dr. Tan Shot Yen mengingatkan calon jemaah haji untuk menjaga kesehatan, mengontrol penyakit kronis, dan mengatur pola makan sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Studi IHDC mengungkap hubungan signifikan antara stunting, anemia, dan rendahnya kemampuan working memory pada anak usia sekolah di Indonesia.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved