Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak dan remaja dari Universitas Indonesia Vera Itabiliana Hadiwidjojo membagikan kiat bagi orangtua ketika memberikan pujian atau validasi eksternal pada anak agar tidak menimbulkan dampak negatif.
"Sering ditanyakan orangtua, nanti anaknya besar kepala kalau dipuji terus-terusan atau nanti dia tidak mau terpacu untuk mencapai yang lebih baik lagi. Memuji itu memang ada tekniknya sendiri. Sebenarnya memuji itu bukan sesuatu yang simpel, bukan sesuatu yang gampang," kata Vera dalam sesi webinar, ditulis Kamis (6/1).
Menurut Vera, pujian yang baik seharusnya diucapkan secara spesifik atau langsung mengarah pada proses di balik keberhasilan yang anak capai.
Baca juga: Tuntutan Mati Pemerkosa Anak Didukung Banyak Pihak
Pujian secara umum yang diucapkan secara terus-menerus, seperti sebatas kata-kata," Wah, kamu hebat" atau "Wah, kamu pintar", dapat menimbulkan efek negatif pada anak.
"Kita tidak secara general bilang 'hebat' atau apa. Itu mungkin kalau terlalu berulang kali, dia akan merasa dirinya memang anak paling hebat dan pintar di dunia ini, tetapi begitu keluar rumah dan bertemu sedikit kesulitan jadi gampang rapuh," ujarnya.
Sebagai contoh, kalimat seperti, "Mama bangga kamu bisa bangun tidur di pagi hari sendiri tanpa dibangunkan", kata Vera, akan jauh lebih baik dan bisa berdampak positif pada anak.
Menurut Vera, pujian atau validasi eksternal masih dibutuhkan bagi anak-anak hingga usia remaja. Validasi ini merupakan bentuk apresiasi yang diberikan dari lingkungan sekitarnya sehingga dapat menumbuhkan motivasi pada diri mereka.
"Pujian masih dibutuhkan untuk mereka. Makanya mungkin ada anak-anak yang akan semangat belajarnya kalau dijanjikan reward tertentu," tuturnya.
Meski demikian, Vera mengingatkan agar orangtua juga tetap membantu menumbuhkan dan mengembangkan validasi internal pada diri sang anak.
Validasi internal merupakan perasaan bangga dan semangat yang muncul melalui kesadaran di dalam dirinya sendiri tanpa harus dipicu pujian orang lain.
Validasi ini, kata Vera, biasanya baru berkembang pada usia remaja akhir sekitar 16 hingga 18 tahun.
Sebagai contoh, kalimat seperti, "Wah kamu hebat sudah bisa lebih bagus nilainya, kamu pasti bangga dengan diri kamu sendiri sudah bisa berusaha semaksimal mungkin" atau "Kamu pasti bangga dengan diri kamu sendiri karena bisa bangun tidur tanpa dibangunkan", menurut Vera, merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan validasi internal.
"Sehingga dia akan menyadari dirinya sendiri, 'Ternyata aku tidak perlu melakukan ini untuk dapat pujian dari orang karena itu membuat aku sendiri merasa senang atau bahagia terhadap apa yang aku lakukan'," pungkas Vera. (Ant/OL-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Psikolog Sani Budiantini menekankan pentingnya kesiapan mental orangtua dalam menghadapi reaksi anak saat implementasi PP Tunas dan pembatasan gawai.
Roblox memperkenalkan Roblox Kids dan Roblox Select di Indonesia untuk melindungi pengguna di bawah 16 tahun dengan kontrol orang tua yang lebih ketat.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Pengumuman SNBP 2026 memicu refleksi mendalam bagi orang tua. Fokus kini bergeser dari sekadar nama besar kampus ke relevansi kurikulum dan kesiapan kerja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved