Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM kondisi normal, rambut akan mengalami kerontokan pada kisaran 50-100 helai per harinya. Hal ini mengacu pada fase yang dilalui rambut, yakni pertumbuhan, rontok, dan transisi. Lantas, apa jadinya jika kerontokan rambut terjadi secara berlebihan dan bahkan berujung pada kebotakan?
Spesialis kulit dan kelamin konsultan Divisi Dermatologi Kosmetik Departemen Dermatolgi dan Venere-ologi FKUI RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Lili Legiawati menjelaskan kebotakan terjadi karena berbagai faktor.
“Bisa karena kondisi autoimun yang membuat tubuh tidak mengenali selnya sendiri, faktor genetik, hormon, paparan bahan kimia, penyakit tertentu, dan kekurangan asupan vitamin,” jelasnya dalam webinar bertajuk Kebotakan Rambut di akun Instagram RSCM Kencana, Senin (23/11).
Menurutnya, kebotakan terjadi ketika rambut di kulit kepala atau area tubuh yang lain hilang atau rontok secara berlebihan. Ada tiga jenis kebotakan, yakni Alopsia universalis (di seluruh tubuh), Alopesia totalis (seluruh rambut di kepala), dan Alopesia areata (lokal di satu tempat).
Selain kepala, kebotakan bisa terjadi di alis, janggut, dan bulu mata. Tidak semua kerontokan rambut akan berakhir pada kebotakan. Jika rambut yang rontok tidak melebihi batas normal dan tidak berkepanjangan, itu tidak akan mengalami kebotakan.
Untuk pengobatannya, Lili menyebutkan beberapa pilihan yang dapat dilakukan. Pertama, terapi kortikosteroid injeksi yang dilakukan pada lokasi yang mengalami kebotakan dan pertumbuhan rambut akan mulai tampak dalam 4-6 minggu.
Terapi kedua diberikan lewat kortikosteroid topikal dengan cara mengoleskannya 2 kali dalam sehari selama minimal 3 bulan. Terapi ketiga dilakukan dengan pemberian minoksidil untuk pasien Alopesia areata yang ekstensif atau kerontokan yang mencapai 50%-90%. Pertumbuhan rambut awal akan muncul dalam 12 minggu. Namun, pengobatan ini dapat menimbulkan efek samping berupa iritasi dan rambut yang tumbuh berwarna kemerahan.
Terakhir, pengobatan kebotakan dilakukan dengan imunoterapi topikal, yakni pemberian obat pada kulit yang terkena alopesia dengan tujuan menimbulkan reaksi mirip alergi dan memicu pertumbuhan rambut. Pertumbuhan rambut umumnya mulai tampak pada minggu ke 12-24 minggu.
Agar terhindar dari kebotakan, Lili mengingatkan untuk membatasi penggunaan produk penataan rambut dan perangkat perawatan rambut yang membuat rambut kering. Penting juga untuk menghindari diet ketat karena berkurangnya asupan gizi juga memengaruhi kerontokan rambut. (Wan/H-2)
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Untuk mengatasi ketersediaan obat, strategi pertama adalah bagaimana menyediakan substitusinya.
Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso ingatkan pasien TB untuk konsisten minum obat guna membunuh kuman dorman dan mencegah resistensi obat yang berbahaya.
Pasien tuberkulosis disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika merasakan gejala ringan agar dapat diberikan penanganan yang tepat.
Sebagai obat pereda nyeri (analgesik), penggunaan tramadol wajib berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Pengguna sering kali mengincar efek instan Tramadol berupa tubuh yang terasa lebih segar, peningkatan energi, hingga lonjakan suasana hati (mood) dan rasa percaya diri.
Dokter spesialis kulit dr. Arini Astasari Widodo menyarankan perawatan kulit dilakukan 6 bulan sebelum pernikahan demi hasil maksimal dan makeup menempel sempurna.
Skin booster adalah prosedur perawatan kulit dengan cara menginjeksikan bahan aktif—biasanya berupa Hyaluronic Acid (HA) konsentrasi rendah—ke lapisan dermis kulit.
Dokter spesialis kulit menyarankan perawatan kulit dimulai 6 bulan sebelum pernikahan demi hasil maksimal dan menghindari risiko iritasi menjelang hari H.
Teknologi ini mengantongi sertifikasi dari dua badan besar dunia, yakni US FDA (Amerika Serikat) dan KFDA (Korea Selatan).
Demam beauty-wellness mendorong tren perawatan estetik, tetapi persoalan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Bagi Gen Z dan Gen Alpha, hasil yang cepat dan nyata menjadi nilai penting, sejalan dengan ritme hidup mereka yang dinamis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved