Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSEP pengurangan risiko atau harm reduction tengah didorong sebagai salah satu solusi tambahan untuk mengurangi masalah penyakit tidak menular, melengkapi upaya yang selama ini sudah dijalankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah dari berbagai negara.
Hal ini dibahas para peneliti, dokter, ilmuwan, dan berbagai pemangku kepentingan dari seluruh dunia dalam International Conference on Harm Reduction in Non-Communicable Diseases di Paris, Prancis pada 2-3 Februari 2020.
Ahli toksikologi dari Universitas Airlangga, Shoi’m Hidayat memaparkan cara mengurangi risiko penyakit tidak menular yang menjadi pembahasan kunci dalam konferensi tersebut.
“Yang jadi persoalan adalah penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada penderita yang berusia di bawah 60 tahun, yaitu usia produktif. Sekarang yang perlu dicari jalan keluarnya adalah bagaimana menurunkan risiko terkait penyakit tidak menular ini. Perlu diketahui juga kalau penyakit tidak menular lazimnya bersifar kronik, bukan akut,” katanya saat dihubungi wartawan pada Kamis (13/2) setelah menghadiri konferensi di Paris.
Berdasarkan laporan WHO tahun 2018, penyakit tidak menular membunuh 41 juta orang setiap tahunnya atau setara 71% dari semua kematian secara global. Setiap tahun, 15 juta orang yang berusia 30 sampai 69 tahun meninggal karena penyakit ini.
Lalu, lebih dari 85% kematian tersebut terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Adapun yang termasuk jenis penyakit tidak menular adalah penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronis (penyakit paru obstruktif kronis dan asma), dan diabetes.
“Dulu, banyak penderita penyakit menular yang menyebabkan kematian, terutama di Indonesia. Sekarang, karena bergesernya gaya hidup, yang jadi problem adalah penyakit tidak menular,” tegas Sho’im.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, penyakit tidak menular, seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus, dan hipertensi mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2013.
Prevalensi kanker naik dari 1,4% menjadi 1,8% dan prevalensi stroke menjadi 10,9% dari 7%. Penyakit ginjal kronik naik 2% menjadi 3,8%. Diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5% serta hipertensi naik dari 25,8% menjadi 31,4%.
Pakar Kesehatan dari Polandia, Andrzej M. Fal, dalam konferensi tersebut menjelaskan bahwa penyakit tidak menular menciptakan ancaman besar bagi perekonomian negara yaitu peningkatan biaya perawatan pasien dan peningkatan rasio ketergantungan.
Untuk itu, Andrzej menyarankan tiga poin penting. Pertama, keperluan untuk mengadopsi investasi dalam kebijakan kesehatan dengan membiayai pendidikan kesehatan dan pencegahan primer. Kedua, mengadopsi pendekatan baru termasuk pendekatan pengurangan dampak risiko. Ketiga, mencari sumber keuangan tambahan, termasuk pembiayaan swasta.
Terkait hal tersebut, Sho’im menyarankan Pemerintah Indonesia untuk mulai menerapkan konsep pengurangan risiko dalam upaya mempercepat tercapainya target pengurangan angka penyakit tidak menular.
Sebagai contoh, untuk menurunkan angka penderita kanker paru yang disebabkan oleh rokok, pemerintah dapat mendorong penggunaan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik, yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok.
“Produk tembakau alternatif memiliki kandungan risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok. Rokok itu menghasilkan zat kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik, yang dapat menyebabkan kanker dan gangguan jantung," kata Sho'im.
"Saya berharap perokok dewasa yang masih mau terus menggunakan tembakau dapat beralih ke produk tembakau alternatif karena produk tersebut memiliki kadar zat kimia yang lebih rendah, sehingga risikonya juga lebih rendah,” tegas Sho’im.
Sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Polandia, dan Rusia mendukung penggunaan produk tembakau alternatif sebagai pengganti rokok untuk mengurangi angka penyakit tidak menular. Bahkan, Uni Eropa dan Inggris Raya telah memiliki regulasi khusus bagi produk tersebut.
“Ini artinya beberapa negara sudah mulai peduli dengan masalah tersebut. Jadi ada semangat untuk menurunkan risiko terhadap penyakit tidak menular melalui inovasi-inovasi produk yang lebih rendah risiko seperti produk tembakau alternatif,” jelas Sho’im.
Laura Rosen, Profesor dari Departemen Promosi Kesehatan, Sekolah Kesehatan Masyarakat, Tel Aviv, juga memaparkan bahwa terdapat sejumlah keuntungan dari penggunaan produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang ingin mengurangi risiko kesehatan dari rokok, terutama jika dilakukan dengan terapi dukungan perilaku (behavioral support).
“Hasil kajiannya menunjukkan keuntungan berupa tingkat kesuksesan untuk berhenti merokok dengan produk tembakau alternatif lebih tinggi daripada obat-obatan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy), pengurangan risiko dari dampak buruk tembakau, kesehatan yang lebih baik, tidak dapat diakses oleh anak di bawah umur, dan dapat ditanggung oleh beberapa asuransi kesehatan,” tutup Laura. (OL-09)
Marcella Zalianty dorong perluasan skrining jantung anak berkebutuhan khusus. IDAI juga ingatkan bahaya mikroplastik pada bayi sejak dalam kandungan.
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kondisi jantung berdebar itu berbahaya.
Penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner bukan sekadar tanda kerusakan radiologis, melainkan cerminan proses biologis akibat faktor risiko seperti diabete dan, hipertensi.
Kebiasaan rutin yang dilakukan sehari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan jantung Anda.
Orang dewasa yang aktif antara pukul 07.00–08.00 pagi mencatatkan kemungkinan terendah terkena penyakit arteri koroner.
SEORANG pasien datang dengan keluhan nyeri dada yang mengarah pada gangguan aliran darah ke jantung dan ditangani dengan rotablator untuk mengatasi sumbatan.
Katarak bukan lagi penyakit lansia. Kenali katarak juvenil yang mengincar usia produktif akibat diabetes, trauma, hingga miopia tinggi. Cek gejalanya di sini!
Masyarakat disarankan melakukan deteksi dini, yaitu skrining untuk mengidentifikasi risiko diabetes sejak awal.
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Gula aren sering dianggap lebih sehat, tapi benarkah aman untuk diabetes? Simak kandungan, indeks glikemik, batas konsumsi harian, serta risiko kesehatan jika berlebihan.
Simak 5 cara efektif menjaga kadar gula darah tetap stabil, mulai dari pola makan hingga kelola stres, guna mencegah komplikasi diabetes sejak dini.
Sering kesemutan atau mati rasa? Jangan anggap sepele. Bisa jadi itu tanda neuropati perifer, gangguan saraf yang berbahaya jika dibiarkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved