Pakar Sebut Kerja Sama dengan Rusia Langkah Taktis Amankan Pasokan BBM dan LPG

Rahmatul Fajri
17/4/2026 19:28
Pakar Sebut Kerja Sama dengan Rusia Langkah Taktis Amankan Pasokan BBM dan LPG
Ilustrasi(ANTARA)

PENELITI Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro, mengapresiasi langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjalin kerja sama pasokan energi dengan Rusia. Kerja sama yang mencakup suplai minyak mentah (crude), LPG, hingga pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) ini dinilai sebagai langkah krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.

“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” ujar Ridho saat dihubungi, Jumat (17/4/2026).

Selain soal volume pasokan, Ridho menyoroti rencana pembangunan storage sebagai poin paling strategis dalam kerja sama tersebut. Menurutnya, infrastruktur penyimpanan yang memadai adalah kunci ketahanan sistem yang lebih fundamental daripada sekadar pembelian volume energi sesaat.

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap memperhatikan aspek teknis seperti harga yang kompetitif dan kesesuaian jenis minyak dengan kilang domestik. "Keberhasilan kebijakan ini nanti diukur dari hal konkret; apakah harga lebih kompetitif dan stok bisa diakses cepat saat krisis," tambahnya.

Senada, dosen kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi, menilai langkah Bahlil memiliki dimensi ekonomi-politik yang kuat. Dengan mengamankan suplai energi, pemerintah secara tidak langsung sedang meredam potensi gejolak sosial akibat inflasi.

“Menjaga suplai dan harga tetap terkendali berarti meredam potensi tekanan sosial akibat inflasi dan gejolak ekonomi. Kebijakan ini bersifat pragmatis dalam jangka pendek,” kata Nizar.

Pemerintah Indonesia mengamankan kerja sama strategis dengan pemerintah Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui pasokan minyak mentah (crude) dan pembangunan infrastruktur energi. Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 16 April 2026, sebagai tindak lanjut dari kunjungan kerja pemerintah ke Rusia.

“Kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan, crude dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting, dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” jelas Bahlil.

Menurut Bahlil, kerja sama yang ditindaklanjuti mencakup kemitraan jangka panjang di sektor energi, termasuk pemenuhan kebutuhan minyak nasional. Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) domestik baru berkisar 600–610 ribu barel per hari.

“Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per day. Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara, tapi di hampir semua negara,” ungkapnya.

Untuk memastikan stabilitas pasokan energi nasional dalam jangka pendek, pemerintah juga telah mengamankan ketersediaan minyak mentah hingga akhir tahun 2026. Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo guna menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global.

“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” jelas Bahlil.

Selain minyak mentah, pemerintah juga membahas peluang kerja sama dalam pemenuhan kebutuhan LPG nasional yang saat ini masih bergantung pada impor sekitar 7 juta ton per tahun. Meski demikian, untuk kerja sama pasokan minyak mentah, Bahlil menyebut prosesnya telah mendekati tahap final.

“Sekarang kita lakukan diversifikasi, dan insyaallah kita juga akan mendapat support. Tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap,” tambahnya.

“Tapi kalau crude-nya saya pikir sudah hampir final,” tegasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya