Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pemerintah untuk menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax 92 mendapat dukungan dari kalangan pengamat ekonomi. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah tingginya harga minyak mentah dunia.
Direktur Kebijakan Publik dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar, menyatakan bahwa penyesuaian harga Pertamax 92 merupakan langkah yang tepat secara prinsip.
Menurutnya, jika harga tidak segera disesuaikan dengan perkembangan pasar global, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kinerja badan usaha akan semakin berat.
“Menaikkan harga BBM nonsubsidi secara prinsip tepat. Alasannya, pertama tekanan APBN kita lumayan besar dan harga minyak global masih sangat tinggi. Jadi beban fiskal negara meningkat karena subsidi dan kompensasi energi,” ujar Media, dikutip Selasa (28/4).
Media menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi idealnya memang mengikuti mekanisme harga pasar. Apabila harga minyak global melonjak namun harga jual domestik tetap ditahan, hal tersebut berpotensi menggerus keuangan Pertamina sebagai penyedia. Dengan melakukan penyesuaian, pemerintah dapat menjaga ruang fiskal agar tidak terbebani oleh kompensasi energi yang membengkak.
Berikut adalah ringkasan poin-poin utama terkait urgensi dan risiko penyesuaian harga BBM nonsubsidi menurut analisis CELIOS:
| Aspek Analisis | Poin Utama |
|---|---|
| Urgensi Utama | Harga minyak global yang tinggi menekan beban fiskal negara. |
| Risiko Migrasi | Potensi perpindahan konsumen Pertamax 92 ke Pertalite (BBM subsidi). |
| Dampak ke APBN | Jika migrasi terjadi, beban subsidi Pertalite justru bisa meningkat. |
| Solusi Jangka Panjang | Transisi energi terbarukan dan penguatan transportasi publik. |
Meski mendukung, Media memberikan catatan kritis mengenai risiko pergeseran konsumsi. Ia khawatir masyarakat kelas menengah ke atas yang selama ini menggunakan Pertamax 92 akan beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran.
“Ada kendaraan tertentu yang kemudian akhirnya berpindah dari Pertamax ke Pertalite. Jadi konsumsi Pertalite menjadi lebih banyak dan ini malah membebani APBN juga. Hal ini harus diantisipasi,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk segera membenahi sistem penyaluran BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Media menyarankan agar subsidi diberikan berbasis data penerima (orang), bukan lagi berbasis barang, sehingga masyarakat mampu tidak lagi menikmati fasilitas yang seharusnya diperuntukkan bagi warga kurang mampu.
Sebagai langkah jangka panjang agar ketahanan energi nasional tidak terus bergantung pada fluktuasi harga impor, CELIOS merekomendasikan beberapa langkah strategis:
“Transportasi publik serta tata kota yang baik perlu didukung dengan standar kenyamanan yang lebih baik. Dengan demikian, ketergantungan pada BBM dapat dikurangi secara signifikan,” pungkas Media. (Z-1)
Pakar otomotif ITB ingatkan risiko penurunan performa hingga kerusakan mesin jika nekat pakai BBM oktan rendah demi hemat biaya.
enaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak seragam dinilai berpotensi membuat konsumen beralih ke produk yang lebih murah.
Kenaikan harga BBM dan elpiji non-subsidi menciptakan disparitas harga yang cukup siginifikan.
PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi yang dijual di SPBU, berlaku sejak 18 April 2026.
WAKIL Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi. dan LPG Adisatrya mengkritik keputusan pemerintah tanpa sosialisasi ke pelaku usaha
Pakar ITB ingatkan risiko mesin rusak dan biaya perbaikan belasan juta rupiah akibat mencampur atau menurunkan oktan BBM saat harga naik.
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan tidak akan memberikan tekanan besar terhadap laju inflasi nasional.
ISU mengenai harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax akan naik Rp17.850 per liter pada April 2026 dipastikan hoaks atau tidak benar
Baron menyampaikan prioritas utama Pertamina saat ini adalah menyediakan energi dan mengoptimalkan rantai pasok untuk menyalurkan energi ke seluruh pelosok negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved