Bahaya Campur BBM dan Turun Oktan saat Harga BBM Nonsubsidi Naik

Basuki Eka Purnama
22/4/2026 07:24
Bahaya Campur BBM dan Turun Oktan saat Harga BBM Nonsubsidi Naik
Ilustrasi--Kendaraan mengisi BBM nonsubsidi di SPBU Cikini, Jakarta, Senin, (20/4/2024).(MI/Usman Iskandar)

DINAMIKA geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak signifikan pada sektor energi nasional. Per 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kenaikan yang cukup tajam ini memicu kekhawatiran masyarakat dan mendorong sebagian pengguna kendaraan untuk mencari cara penghematan, termasuk dengan menurunkan oktan atau mencampur jenis BBM.

Namun, langkah tersebut justru dinilai sebagai "bom waktu" bagi pemilik kendaraan. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan bahwa upaya penghematan yang tidak tepat dapat berujung pada kerusakan mesin yang fatal.

Risiko Fatal Menurunkan Oktan BBM

Menurut Yannes, mengganti BBM beroktan tinggi ke oktan yang lebih rendah secara mendadak akan berdampak langsung pada kinerja mesin. Alih-alih hemat, konsumsi bahan bakar justru berpotensi menjadi lebih boros.

“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih (overheat), tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” ujar Yannes saat dihubungi di Jakarta.

Dalam jangka menengah, yakni sekitar 10.000 hingga 20.000 km, penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi akan memicu penumpukan deposit karbon di ruang bakar dan injektor. Hal ini menyebabkan:

  • Kondisi idle mesin menjadi kasar.
  • Akselerasi kendaraan tersendat-sendat.
  • Emisi gas buang menjadi lebih kotor dan tidak ramah lingkungan.

Bahaya Mencampur Jenis BBM

Selain menurunkan oktan, praktik mencampur dua jenis BBM yang berbeda, seperti Pertamax Turbo dengan Pertamax, juga sangat tidak disarankan. Yannes menjelaskan bahwa setiap jenis BBM memiliki formulasi kimia yang spesifik.

“Kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran yang berbeda. Mencampurnya dapat menghasilkan angka oktan yang tidak stabil,” jelasnya. Ketidakstabilan ini memicu knocking sporadis atau suara ketukan pada mesin yang tidak teratur.

Lebih lanjut, endapan yang terbentuk dari campuran tersebut berisiko menyumbat filter dan merusak sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau GDI. Biaya perbaikan untuk komponen-komponen sensitif ini tidaklah murah, bahkan bisa mencapai belasan juta rupiah.

Update Harga BBM Per 18 April 2026

Kenaikan harga kali ini menyasar kelompok BBM nonsubsidi kelas atas, sementara harga BBM subsidi dan Pertamax (RON 92) terpantau masih stabil. Berikut adalah rincian perubahan harga BBM di wilayah DKI Jakarta:

Jenis BBM Harga Lama (1 April) Harga Baru (18 April) Status
Pertamax Turbo Rp13.100 Rp19.400 Naik
Dexlite Rp14.200 Rp23.600 Naik
Pertamina Dex Rp14.500 Rp23.900 Naik
Pertamax (RON 92) Rp12.300 Rp12.300 Tetap
Pertalite (Subsidi) Rp10.000 Rp10.000 Tetap
Biosolar (Subsidi) Rp6.800 Rp 6.800 Tetap
Saran Pakar: Mencampur BBM bukan solusi penghematan yang efektif, melainkan hanya menunda masalah dan berpotensi mempercepat kerusakan komponen internal seperti ring piston. Masyarakat diimbau untuk tetap menggunakan jenis BBM yang sesuai dengan spesifikasi pabrikan guna menjaga keawetan kendaraan dalam jangka panjang.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya