Sinyal Kuat Kenaikan BBM Nonsubsidi, Menteri ESDM Sebut Formula Harga Pertamax hampir Rampung

 Gana Buana
17/4/2026 15:10
Sinyal Kuat Kenaikan BBM Nonsubsidi, Menteri ESDM Sebut Formula Harga Pertamax hampir Rampung
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberi sinyal kuat penyesuaian harga Pertamax Series hampir selesai.(Dok. MI)

Pemerintah memberikan sinyal kuat mengenai berakhirnya masa penahanan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai penyesuaian harga Pertamax Series dan produk sejenisnya kini sudah memasuki tahap final.

Langkah ini diambil menyusul tekanan hebat pada harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Saat ini, harga minyak jenis Brent dan WTI telah bertengger di level US$90-100 per barel, melonjak drastis dibandingkan rata-rata Januari 2026 yang hanya sebesar US$64 per barel.

“Tinggal kita lihat kapan itu dilakukan penyesuaian. Feeling saya, atas dasar rapat-rapat kami dengan Pertamina maupun badan usaha swasta, sudah hampir selesai sih,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4).

Bahlil menegaskan bahwa penyesuaian ini merupakan konsekuensi logis dari regulasi yang berlaku. Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, harga BBM nonsubsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU) harus mengikuti mekanisme pasar.

“Sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM pada Tahun 2022, BBM nonsubsidi itu kan berdasarkan harga pasar,” imbuhnya.

Sebelumnya, pemerintah melalui instruksi Presiden Prabowo Subianto sempat menahan harga BBM sejak awal April 2026 untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Namun, kebijakan ini berdampak pada beban finansial penyedia energi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa Pertamina harus menanggung selisih harga untuk sementara waktu selama penyesuaian belum dilakukan.

Meski penyesuaian harga di depan mata, pemerintah menjamin pasokan BBM nasional dalam kondisi aman. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying), karena ketersediaan stok di SPBU dipastikan mencukupi kebutuhan nasional di tengah geopolitik global yang memanas.

Hingga saat ini, selain Pertamina, sejumlah badan usaha swasta seperti Shell, Vivo, dan BP juga masih memantau perkembangan pasar sebelum secara resmi mengumumkan perubahan harga di SPBU masing-masing. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya