Bahlil Beri Sinyal Harga Pertamax Naik Jika Harga Minyak Dunia tak Turun

Media Indonesia
20/4/2026 20:05
Bahlil Beri Sinyal Harga Pertamax Naik Jika Harga Minyak Dunia tak Turun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan keterangan pers terkait penemuan cadangan gas besar melalui sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin(MI/Usman Iskandar.)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sinyal kuat akan adanya penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dalam waktu dekat. Hal ini bergantung sepenuhnya pada fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tidak bisa mengintervensi harga BBM nonsubsidi karena mengikuti mekanisme pasar. Jika tren harga minyak dunia tetap tinggi, maka penyesuaian harga Pertamax tidak dapat dihindari.

“(Penyesuaian harga) tahap berikutnya kita lihat penyesuaiannya. Kalau harganya turun, ya nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Kenaikan Drastis BBM Nonsubsidi Lainnya

Sinyal penyesuaian Pertamax ini muncul setelah Pertamina Patra Niaga secara resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi lainnya per 18 April 2026. Kenaikan tersebut tergolong signifikan, di mana beberapa jenis BBM mengalami lonjakan hingga di atas Rp6.000 per liter.

Daftar Harga BBM Nonsubsidi Per 18 April 2026:
Jenis BBM Harga Lama Harga Baru
Pertamax Turbo Rp13.100 Rp19.400
Dexlite Rp14.200 Rp23.600
Pertamina Dex Rp14.500 Rp23.900

Saat ini, harga Pertamax (RON 92) masih tertahan di angka Rp12.300 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter. Namun, posisi ini rentan berubah mengikuti evaluasi berkala pemerintah dan Pertamina.

Nasib Pertalite dan Biosolar

Berbeda dengan kelompok nonsubsidi, Bahlil membawa kabar baik bagi pengguna BBM subsidi. Ia menegaskan bahwa harga Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, selama harga minyak mentah Indonesia (ICP) tidak menembus angka 100 dolar AS per barel.

“Kalau harga BBM subsidi, sampai dengan rata-rata harga ICP 100 dolar, tidak akan naik,” tegasnya. Berdasarkan data per 20 April 2026, rata-rata ICP berada di level 76 dolar AS per barel, yang berarti masih dalam batas aman untuk menjaga stabilitas harga subsidi.

Pemerintah saat ini tetap mempertahankan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter sebagai bentuk perlindungan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Penyesuaian harga ini dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengatur formula harga dasar perhitungan harga jual eceran BBM umum. (Ant/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya