Harga Minyak Dunia Naik 8 Persen usai Trump Ancam Blokade Selat Hormuz

Andhika Prasetyo
13/4/2026 09:53
Harga Minyak Dunia Naik 8 Persen usai Trump Ancam Blokade Selat Hormuz
ilustrasi(Anadolu)

Harga minyak global mengalami lonjakan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana blokade di Selat Hormuz. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global, mengingat jalur ini merupakan salah satu titik vital distribusi minyak dunia.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent Crude Oil untuk kontrak Juni melonjak hingga menyentuh US$102 per barel atau sekitar Rp1,7 juta. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei bahkan naik lebih tinggi, mencapai US$104,51 per barel, atau meningkat sekitar 8,2$.

Kenaikan tajam ini terjadi di tengah memanasnya situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, kedua negara sempat menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa hasil.

Wakil Presiden AS J.D. Vance yang memimpin delegasi menyatakan bahwa pembicaraan tidak mencapai kesepakatan. Hal ini semakin memperburuk sentimen pasar, terutama setelah delegasi AS kembali tanpa membawa hasil konkret.

Merespons kegagalan diplomasi tersebut, Trump mengumumkan langkah tegas dengan memerintahkan blokade terhadap seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ia juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat kapal-kapal yang melakukan transaksi dengan Iran untuk melintasi jalur tersebut.

Langkah ini diperkuat oleh pernyataan United States Central Command (CENTCOM) yang menyatakan kesiapan untuk memulai blokade penuh terhadap lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran. Operasi tersebut dijadwalkan dimulai pada Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.

Ancaman blokade ini langsung memicu reaksi keras dari pasar energi global. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga secara drastis.

Dengan meningkatnya tensi geopolitik ini, pelaku pasar kini mencermati perkembangan situasi lebih lanjut, terutama potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak lebih luas terhadap stabilitas pasokan energi dan perekonomian global. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya