Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum sepenuhnya mampu memulihkan kepercayaan investor.
Menurutnya, jeda konflik tersebut memang dapat memperbaiki sentimen pasar dalam jangka pendek, terutama karena risiko gangguan di Selat Hormuz untuk sementara mereda.
"Namun, bagi pelaku usaha, kepercayaan investor biasanya tidak langsung pulih penuh hanya karena jeda dua pekan," ungkapnya kepada Media Indonesia, Rabu (8/4).
Ia menjelaskan, investor masih akan bersikap hati-hati dengan melakukan penilaian menyeluruh terhadap perkembangan ke depan. Hal ini mencakup kepastian adanya jalur diplomasi yang lebih permanen, keamanan arus rantai pasok energi, hingga stabilitas volatilitas harga komoditas.
“Jadi, secara umum kami melihat ini lebih sebagai sinyal positif awal yang bisa menurunkan tekanan psikologis pasar, tetapi belum cukup untuk menghilangkan sikap wait and see,” terangnya.
Dari perspektif dunia usaha, gencatan senjata ini tetap merupakan perkembangan positif karena memberi ruang de-eskalasi dan meredakan tekanan jangka pendek, khususnya pada harga energi dan persepsi risiko pasar. Respons pasar pun terlihat cepat, tercermin dari turunnya harga minyak Brent ke bawah US$100 per barel setelah pengumuman tersebut.
Meski begitu, Shinta berpandangan durasi dua pekan masih terlalu singkat untuk memberikan kepastian yang solid bagi pelaku usaha. Dengan demikian, kondisi ini lebih tepat dipandang sebagai temporary relief dibandingkan penyelesaian final, mengingat keberlanjutan gencatan senjata sangat bergantung pada dinamika di lapangan serta kelanjutan perundingan.
Terkait implikasi terhadap inflasi domestik, Shinta menyebut apabila gencatan senjata mampu bertahan dan menurunkan risk premium energi, maka tekanan inflasi khususnya dari sisi energi, berpotensi lebih terkendali dibandingkan skenario konflik berkepanjangan.
Ia menambahkan, risiko utama sebelumnya memang berasal dari lonjakan harga minyak dan biaya logistik akibat terganggunya pasokan. Namun, transmisi ke inflasi domestik tidak akan terjadi secara instan karena harga pangan, transportasi, dan biaya distribusi masih dipengaruhi tekanan biaya serta ketersediaan bahan baku.
Sementara itu, dari sisi nilai tukar, ia menilai rupiah tetap rentan terhadap dinamika geopolitik global, termasuk pergerakan harga minyak dan arus modal. Sebelum pengumuman gencatan senjata, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.090 per dolar AS sehingga Bank Indonesia perlu melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas. Dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, ruang pelonggaran suku bunga juga menjadi lebih terbatas karena fokus kebijakan diarahkan pada stabilitas nilai tukar dan inflasi.
“Jadi, risiko terhadap rupiah belum hilang. Hanya saja, kalau gencatan senjata ini berlanjut kepada resolusi konflik yang lebih berkelanjutan,” ucapnya.
Ia menuturkan, apabila pasar energi menjadi lebih stabil, tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih manageable atau terjaga dibandingkan saat terjadi eskalasi penuh konflik. (H-4)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved