Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Industri rokok rakyat dinilai tengah menghadapi tekanan hebat akibat kebijakan kuota dan kenaikan tarif cukai yang terus mencekik pelaku usaha kecil. Meski penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) nasional pada 2024 menembus angka impresif Rp226 triliun, angka tersebut dianggap menyembunyikan luka panjang bagi petani tembakau dan pabrik rokok rumahan.
Owner Rokok Bintang Sembilan, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menyebut kebijakan cukai nasional saat ini berada dalam paradoks serius. Menurutnya, negara sangat bergantung pada industri hasil tembakau sebagai mesin fiskal, namun di sisi lain justru menyempitkan ruang hidup industri rakyat melalui pembatasan kuota.
"Kalau negara jujur, harusnya berani bertanya: penerimaan Rp226 triliun itu siapa yang membayar? Jangan-jangan yang dikorbankan justru rakyat kecil yang tak pernah disebut dalam pidato resmi," ujar Gus Lilur dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Gus Lilur menyoroti pembatasan kuota pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT). Ia menilai langkah pemerintah yang membatasi pesanan pita cukai SKT sangat tidak adil karena sektor ini merupakan industri padat karya yang menyerap ribuan buruh linting di desa-desa.
Menurutnya, meski secara administratif proses pemesanan melalui portal Bea Cukai sudah tertib, hambatan justru muncul pada kuota yang ditetapkan pusat.
"SKT itu jantungnya rokok rakyat. Kalau dibatasi, yang mati bukan cuma pabrik, tapi buruh linting, petani tembakau, dan keluarga-keluarga di desa," tegas tokoh asal Madura ini.
Ia juga menambahkan bahwa kebijakan pembatasan kuota ini justru menjadi pemicu suburnya peredaran rokok ilegal. "Ketika akses terhadap pita cukai legal dipersempit sementara permintaan pasar tetap ada, produksi hanya akan berpindah jalur dari legal ke ilegal," imbuhnya.
Terkait maraknya pelanggaran seperti penyalahgunaan pita cukai (saltem), Gus Lilur menyarankan agar pemerintah memperketat pengawasan melalui teknologi, seperti kewajiban CCTV di pabrik, ketimbang membatasi kuota secara kolektif yang menghukum pengusaha jujur.
Gus Lilur juga menyambut positif sinyal dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka peluang penerbitan pita cukai khusus dengan tarif lebih murah bagi rokok rakyat. Langkah ini dinilai sebagai koreksi atas ketimpangan struktural antara pabrik rokok konglomerat dan pabrik kecil.
"Pabrik besar punya modal dan mesin, sementara pabrik rakyat hidup dari tenaga kerja manual. Disamakan itu bukan adil, tapi menindas. Diferensiasi tarif adalah keharusan," katanya.
Sebagai solusi jangka panjang, Gus Lilur menekankan pentingnya realisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Madura. Proyek yang diperjuangkan Komunitas Muda Madura (KAMURA) ini diharapkan menjadi pusat penataan industri tembakau dari hulu hingga hilir secara adil.
"Ukuran sejati keberhasilan kebijakan cukai bukan dari besarnya penerimaan negara, tapi apakah petani dan buruh linting hidup lebih sejahtera atau semakin terdesak," pungkas Gus Lilur. (H-2)
Tekanan berlapis dari situasi geopolitik global hingga regulasi domestik membuat pelaku industri hasil tembakau (IHT) kian terhimpit.
Seorang pengusaha rokok, Muhammad Suryo, mewujudkan nazar pribadi dengan membangun masjid di lokasi kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya di Desa Palihan, Temon, Kabupaten Kulonprogo.
Guru Besar FKUI Prof. Faisal Yunus menegaskan vape dan rokok konvensional sama-sama berbahaya bagi kesehatan dan bukan alternatif yang aman.
Kasus dugaan korupsi cukai yang menyeret oknum di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) dinilai menjadi momentum penting.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menargetkan penambahan layer atau lapisan baru dalam struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) mulai berlaku paling lambat Mei 2026.
Tim Pengkaji Kemenko PMK telah mengusulkan batasan kadar nikotin dan tar yang lebih rendah pada produk hasil tembakau.
Tantangan utama Indonesia bukan pada kekurangan sumber daya, melainkan bagaimana mengorkestrasi sumber daya menjadi kapasitas nyata.
Ekonom Indef menilai optimisme pemerintah soal fiskal perlu diimbangi konsolidasi konkret agar APBN tetap kuat menghadapi tekanan global jangka panjang.
LONJAKAN harga komoditas global kembali membuka perdebatan lama terkait potensi penerimaan negara yang hilang. Indonesia dinilai membutuhkan instrumen fiskal baru berupa windfall tax.
EKONOM Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengingatkan pemerintah untuk lebih serius dalam mengelola fiskal di tengah meningkatnya tekanan APBN imbas konflik di timur tengah
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik dinilai berpotensi menekan ketahanan energi dan fiskal Indonesia.
keputusan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved