Pakar UI Tegaskan Vape Bukan Alternatif Aman Rokok Konvensional

Basuki Eka Purnama
18/4/2026 10:25
Pakar UI Tegaskan Vape Bukan Alternatif Aman Rokok Konvensional
Berbagai jenis vape(AFP/Daniel LEAL)

ANGGAPAN bahwa rokok elektronik atau vape merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional dibantah keras oleh pakar kesehatan. Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K), menegaskan bahwa keduanya memiliki risiko kesehatan yang serius.

Menurut Prof. Faisal, meski mekanisme penggunaannya berbeda, baik rokok konvensional maupun vape tetap menghasilkan paparan zat berbahaya yang berdampak buruk pada tubuh manusia. Perbedaan bentuk paparan tidak serta-merta menghilangkan risiko, melainkan hanya mengubah jenis dan mekanisme dampaknya.

Perbedaan Mekanisme dan Kandungan Berbahaya

Rokok konvensional bekerja melalui proses pembakaran yang menghasilkan ribuan zat kimia berbahaya. Di sisi lain, vape bekerja dengan memanaskan cairan menjadi aerosol. Meski tidak menghasilkan tar dalam jumlah yang sama dengan rokok bakar, aerosol vape mengandung zat toksik yang tidak kalah mengkhawatirkan.

“Aerosol vape mengandung nikotin dalam kadar yang sering kali lebih tinggi, serta zat seperti formaldehid, asetaldehid, dan logam berat yang dapat menimbulkan inflamasi paru, stres oksidatif, dan gangguan fungsi pembuluh darah,” ujar Prof. Faisal, dikutip Sabtu (18/4).

Berikut adalah perbandingan karakteristik risiko antara rokok konvensional dan vape berdasarkan penjelasan Prof. Faisal Yunus:

Aspek Rokok Konvensional Rokok Elektronik (Vape)
Mekanisme Pembakaran tembakau Pemanasan cairan menjadi aerosol
Kandungan Utama Tar, Nikotin, Karbon Monoksida, Karsinogen Nikotin (sering lebih tinggi), Formaldehid, Logam Berat
Risiko Penyakit Kanker paru, PPOK, Penyakit Kardiovaskular Inflamasi paru, Stres oksidatif, Gangguan pembuluh darah
Residu Udara Asap pembakaran Aerosol (partikel halus dan zat kimia)

Ancaman bagi Perokok Pasif

Selain berdampak pada pengguna aktif, Ketua Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia ini juga menyoroti risiko bagi orang-orang di sekitar atau perokok pasif. Ia mematahkan mitos yang menyebutkan bahwa vape hanya menghasilkan "uap air" biasa.

“Pajanan ini, terutama di ruang tertutup, tetap berpotensi menimbulkan efek kesehatan. Anggapan bahwa vape hanya menghasilkan ‘uap air’ tidak tepat secara ilmiah,” tegasnya.

Aerosol yang dilepaskan vape mengandung partikel halus dan nikotin yang dapat terhirup oleh orang lain, sehingga risiko kesehatan juga mengintai lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, Prof. Faisal mengimbau masyarakat untuk menyadari bahwa tidak ada bentuk konsumsi rokok, baik elektrik maupun konvensional, yang benar-benar aman bagi tubuh. Kesadaran akan bahaya laten di balik tren vape sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan kesehatan jangka panjang. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya