Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Selama ini, deposito kerap dipandang sebagai instrumen investasi paling aman untuk jangka panjang dengan imbal hasil stabil. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penguatan pasar modal membuat saham semakin dilirik sebagai alternatif investasi jangka panjang dengan potensi keuntungan yang lebih besar. Saham selama ini identik dengan investasi berisiko tinggi dan berorientasi jangka pendek. Meski demikian, data historis menunjukkan bahwa saham juga mampu berfungsi sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang, bahkan memberikan imbal hasil yang melampaui instrumen konservatif seperti deposito.
Dalam kurun lima tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik signifikan sebesar 44,05%. Indeks tersebut menguat dari level penutupan 6.012 pada 12 Desember 2020 menjadi 8.660,5 pada penutupan perdagangan 12 Desember 2025.
Sebagai pembanding, deposito berjangka lima tahun pada 2020 menawarkan tingkat bunga di kisaran 5,7%-6,4% per tahun. Dengan asumsi bunga tertinggi sebesar 6,4%, total keuntungan akumulatif hingga jatuh tempo pada 2025 hanya sekitar 32%, lebih rendah dibandingkan kenaikan IHSG pada periode yang sama.
Pengamat pasar modal Faisal Rachman menilai kinerja pasar saham mencerminkan optimisme terhadap kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, penguatan indeks menjadi sinyal positif bagi prospek perusahaan terbuka.
“Tidak dapat dipungkiri, pergerakan indeks harga saham cukup positif. Saat ini sudah berada di atas 8.000 dan berpeluang menembus level 9.000 dalam waktu ke depan,” ujarnya, Rabu (24/12/2025).
Ia menambahkan, penguatan pasar modal memberikan kepercayaan diri bagi perusahaan terbuka untuk meningkatkan kinerja jangka panjang. “Sebagai perusahaan terbuka, kondisi ini membuat prospek ke depan semakin optimistis,” katanya.
Secara teoritis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa saham mampu memberikan imbal hasil jangka panjang lebih tinggi dibandingkan deposito. Bahkan, pada tingkat individual, sejumlah saham mencatatkan kenaikan yang jauh melampaui rata-rata indeks.
Salah satunya adalah saham PT Petrosea Tbk (PTRO), yang melonjak hingga 5.019% dalam lima tahun terakhir, dari Rp210 per saham pada 2020 menjadi Rp10.750 per saham pada 2025. Meski demikian, lonjakan tajam tersebut baru terjadi pada 2024, sementara pada periode 2020-2023 pergerakan sahamnya relatif terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak semua saham langsung mencerminkan potensi kinerja jangka panjang sejak awal, sehingga investor dituntut lebih selektif dalam memilih saham.
Dalam praktiknya, pelaku pasar mengenal istilah blue chip, yakni saham unggulan dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta prospek kinerja yang relatif stabil. Di Indonesia, saham blue chip umumnya berasal dari sektor defensif seperti perbankan.
Salah satu contohnya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Dalam lima tahun terakhir, saham BBNI tercatat naik sekitar 33%, dari kisaran Rp3.300 per saham pada Desember 2020 menjadi sekitar Rp4.400 per saham pada Desember 2025.
Dengan asumsi investasi awal sebesar Rp100 juta pada 2020, kenaikan harga saham tersebut menghasilkan keuntungan kotor sekitar Rp33 juta. Setelah memperhitungkan biaya transaksi, termasuk pajak dan komisi broker, nilai investasi bersih menjadi sekitar Rp132,49 juta atau tumbuh sekitar 32,5%.
Sebaliknya, jika dana yang sama ditempatkan pada deposito lima tahun dengan bunga tertinggi 6,4 persen per tahun, keuntungan kotor mencapai Rp32 juta. Setelah dipotong pajak bunga sebesar 20%, nilai akhir investasi hanya sekitar Rp125,6 juta.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa saham blue chip seperti BBNI mampu memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan deposito, bahkan dengan strategi investasi sederhana berupa pembelian di awal dan penyimpanan jangka panjang.
Temuan ini menegaskan bahwa saham, khususnya kelompok blue chip, tidak hanya menawarkan potensi pertumbuhan, tetapi juga dapat menjadi pilihan rasional bagi investor jangka panjang yang menginginkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil. (E-3)
IHSG hari ini dibuka menguat 0,34% ke posisi 7.096,61 pada sesi pembukaan Rabu (29/4). Indeks LQ45 juga terpantau naik ke level 684,88.
IHSG Selasa (28/4) pagi dibuka menguat 0,31% ke posisi 7.128,47. Simak analisis pergerakan pasar modal dan indeks LQ45 selengkapnya di sini.
IHSG Senin (27/4) pagi dibuka menguat 0,41% ke level 7.158,51. Simak analisis pergerakan pasar modal dan performa indeks LQ45 selengkapnya di sini.
IHSG diprediksi bergerak mendatar pekan ini (27-30 April 2026). Simak analisis Phintraco Sekuritas terkait dampak kebijakan The Fed, ECB, hingga BoJ.
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini terlihat begitu babak belur. Indeks menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 6,61%.
IHSG hari ini Kamis (23/4/2026) melemah 0,69% ke level 7.489,82. Simak analisis sentimen global, harga minyak, dan dampaknya terhadap pasar modal Indonesia.
Danantara tengah menggarap proyek-proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai US$26 miliar atau setara Rp450,42 triliun (kurs Rp17.324 per dolar AS).
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor hilirisasi menjadi kontributor signifikan dengan nilai investasi mencapai Rp147,5 triliun.
Pemerintah menyerap dana Rp40 triliun dari lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) dengan total penawaran masuk mencapai Rp74,95 triliun.
Upaya memperluas literasi dan inklusi pasar modal di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri.
Di tengah dinamika pasar keuangan, kolaborasi antara manajer investasi dan perbankan menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap instrumen investasi yang aman.
KBRI Warsawa gelar forum bisnis di Krakow dan Łódź untuk dorong investasi, perdagangan, dan kerja sama tenaga kerja Indonesia-Polandia jelang IEU-CEPA 2027.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved