Danantara Garap Proyek Hilirisasi Rp450 Triliun, Fokus Energi hingga Mineral

Insi Nantika Jelita
29/4/2026 14:18
Danantara Garap Proyek Hilirisasi Rp450 Triliun, Fokus Energi hingga Mineral
Danantara tengah menggarap proyek-proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai US$26 miliar atau setara Rp450,42 triliun.(Dok. Dunia Energi)

CHIEF Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, pihaknya tengah menggarap proyek-proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai US$26 miliar atau setara Rp450,42 triliun (kurs Rp17.324 per dolar AS). Hal tersebut disampaikan dalam gelaran Groundbreaking Proyek Hilirisasi Tahap II di Cilacap, Rabu (29/4).

Pemerintah melanjutkan percepatan program hilirisasi nasional melalui peresmian pembangunan (groundbreaking) fase kedua di 13 titik secara serentak pada hari ini.

Sebelumnya, fase pertama program hilirisasi telah dilaksanakan pada 6 Februari 2026 di 11 lokasi. Proyek yang dibangun mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pengolahan alumina di Kalimantan Barat, pengembangan bioavtur di Jawa Tengah, produksi bioetanol serta pengelolaan garam industri di Jawa Timur, hingga pembangunan peternakan ayam terintegrasi di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Jadi, proyek-proyek yang sudah terbangun oleh kami kurang lebih nilainya US$26 miliar,” ujar Rosan.

Dalam proyek tahap kedua, terdapat lima proyek di sektor energi, antara lain pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap dan di Dumai. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). 

“Dari pembangunan Cilacap dan Dumai ini akan mengurangi impor kurang lebih 1,25 miliar dolar per tahunnya,” kata Rosan.

Selain itu, Danantara juga membangun tangki penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur, lalu Biak di Papua, dan Maumere di Nusa Tenggara Timur melalui Pertamina. Menurut Rosan, pembangunan ini difokuskan untuk memperkuat ketahanan energi di kawasan Indonesia timur.

Di sektor mineral, Danantara menggarap lima proyek, di antaranya hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, sebagai substitusi impor elpiji.

“Yang mana memang kita 80% masih mengimpor elpiji,” ujarnya.

Proyek lainnya meliputi pembangunan fasilitas manufaktur stainless steel berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, fasilitas produksi slab baja karbon di Cilegon dengan kapasitas sekitar 1,5 juta ton per tahun, serta pengembangan ekosistem produksi aspal Buton di Buton, Sulawesi Tenggara.

“Ini untuk mengurangi ketergantungan impor aspal,” kata Rosan.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan fasilitas hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur, melalui pengembangan produk turunan seperti brass mill dan logam mulia.

Di sektor pertanian, terdapat tiga proyek utama, yakni pengolahan minyak sawit menjadi produk oleo food dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatra Utara, serta pengembangan hilirisasi kelapa dan pala di Maluku Tengah dan Morowali.

Rosan menegaskan, peran Danantara tidak hanya sebatas mengelola aset negara, tetapi juga menjadi katalisator transformasi ekonomi nasional. 

“Mandat kami adalah menciptakan nilai tambah, mengoptimalkan aset, menciptakan efisiensi, dan tentunya sebagai investasi negara untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh proyek dijalankan secara akuntabel, efisien, serta berorientasi pada hasil yang terukur dan terstruktur. Rosan juga menekankan pentingnya sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan agar proyek-proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya