IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah imbas Sentimen Global di Selat Hormuz

Andhika Prasetyo
23/4/2026 10:25
IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah imbas Sentimen Global di Selat Hormuz
ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (23/4) terpantau bergerak di zona merah. Meski sempat dibuka menguat, IHSG kemudian berbalik arah dan menunjukkan kecenderungan defensif akibat tekanan sentimen global yang dominan.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.55 WIB, IHSG melemah 51,79 poin atau 0,69% ke posisi 7.489,82. Pelemahan ini juga diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang turun 6,49 poin atau 0,88% ke posisi 729,48.

Dominasi Sentimen Global dan Geopolitik

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya menyatakan bahwa pergerakan IHSG saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Harga minyak dunia, penguatan dolar AS, dan dinamika geopolitik menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek.

“Secara keseluruhan, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan defensif, di mana faktor global akan lebih dominan dibandingkan katalis domestik,” tulis Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas di Jakarta, Kamis.

Risiko geopolitik yang dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga minyak. Walaupun pelaku pasar berupaya tetap fokus pada fundamental domestik, ketidakpastian global tetap memberikan tekanan pada selera risiko (risk appetite) investor.

Kondisi Makroekonomi Dalam Negeri

Dari sisi domestik, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan. Keputusan BI untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen dinilai masih belum cukup kuat untuk menopang nilai tukar Rupiah di pasar spot.

Kondisi ini diperparah dengan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) ke level 6,64%. Kenaikan imbal hasil ini menjadi indikasi kuat adanya aliran modal keluar (capital outflow) lanjutan dari pasar obligasi Indonesia.

 

Kombinasi antara sentimen indeks MSCI, arus keluar modal asing, serta tekanan di pasar obligasi menciptakan outlook yang menantang bagi pasar keuangan nasional. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi.

Secara teknikal dan fundamental, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak defensif dalam beberapa waktu ke depan, menunggu stabilisasi variabel makroekonomi global dan penguatan fundamental internal. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya