IHSG Melemah ke 7.106,52 di Akhir Sesi, Sentimen Insentif dan Data Investasi Jadi Sorotan Pasar

Media Indonesia
27/4/2026 18:33
IHSG Melemah ke 7.106,52 di Akhir Sesi, Sentimen Insentif dan Data Investasi Jadi Sorotan Pasar
Ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Senin (27/4) di zona merah. Meski sempat menguat sepanjang hari, tekanan menjelang penutupan menyeret indeks turun 22,97 poin atau 0,32% ke level 7.106,52, mencerminkan sikap hati-hati investor memasuki perdagangan berikutnya.

Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut terkoreksi ke posisi 686,74.

“Setelah mengalami tekanan jual pada akhir pekan lalu, IHSG sempat bergerak di teritori positif hampir di sepanjang perdagangan, namun kemudian IHSG melemah menjelang penutupan,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Senin (27/4).

Prospek Insentif Pasar Modal Jadi Penopang Harapan

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada sinyal dukungan kebijakan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang pemberian insentif untuk pasar modal, dengan catatan program otoritas bursa menunjukkan hasil yang positif.

Skema insentif yang dipertimbangkan antara lain pengurangan pajak, sejalan dengan dorongan dari Otoritas Jasa Keuangan agar stimulus fiskal dapat memperkuat daya tarik investasi. Jika terealisasi, kebijakan ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Arus Investasi Asing Menguat Dua Kuartal Beruntun

Fundamental ekonomi turut memberikan sinyal konstruktif. Realisasi investasi asing langsung (FDI) di luar sektor keuangan dan migas tercatat naik 8,5% secara tahunan menjadi Rp250 triliun pada kuartal I 2026.

Pertumbuhan ini melanjutkan tren positif setelah sebelumnya naik 4,3% pada kuartal IV 2025. Sektor industri logam dasar menjadi kontributor utama dengan nilai investasi mencapai US$3,7 miliar, mengindikasikan minat investor global terhadap sektor hilirisasi Indonesia masih kuat.

Sentimen Global: Stabil, Tapi Dibayangi Geopolitik

Dari kawasan Asia, mayoritas indeks saham ditutup menguat, bahkan indeks Nikkei 225 dan Kospi mencetak rekor tertinggi.

Investor cenderung mengesampingkan belum adanya perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta tetap tingginya harga minyak dunia. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang berpotensi memicu volatilitas.

Iran dilaporkan menawarkan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik, serta mengusulkan penundaan pembicaraan terkait program nuklir.

Sektor Energi Tertekan, Pasar Tetap Aktif

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 1,21%, menjadi penekan utama IHSG hari ini.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp16,57 triliun dan volume 33,17 miliar saham dalam 2,20 juta transaksi. Sebanyak 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham stagnan.

Menanti Arah Kebijakan Bank Jepang

Dari Asia Timur, data ekonomi menunjukkan peningkatan laba industri di Tiongkok sebesar 15,5% (yoy) pada Maret 2026, lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke pertemuan Bank of Japan pada 28 April 2026, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75%. Keputusan ini akan menjadi penentu arah sentimen global berikutnya. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya