Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA penyakit akut yang menghinggapi sebagian anak rnbangsa ini yang hingga kini tak kunjung sembuh, yakni pendeknya memori rnkolektif kita dalam banyak hal.
Tidak mengherankan bila terus berjalannya tabiat rnmudah lupa itu membuat sikap bangsa ini kerap bergerak dari titik rnekstrem yang satu ke titik ekstrem yang lain dengan sangat cepat.
Menggeser pendulum seperti semudah orang meludah. Kemarin dianggap berbahaya, kini malah menjadi mitra. Belum lama disebut perkara yang luar biasa, eh mendadak sontak diperlakukan biasa-biasa saja.
Situasi seperti itu pula yang melingkupi ide revisi rnUndang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak rnPidana Korupsi yang disuarakan sejumlah anggota DPR.
Amat sulit menyebut revisi itu dimaksudkan untuk memperkuat KPK. Draf yang disusun justru menunjukkan ada upaya terstruktur dan sistematis untuk memereteli sejumlah kewenangan KPK.
Dari sisi durasi waktu, misalnya, draf revisi UU itu membatasi 'masa hidup' KPK hanya 12 tahun lagi. Padahal, tidak ada dalam pasal mana pun di rnundang-undang ataupun Ketetapan MPR Nomor VIII Tahun 2001 yang membatasirn waktu 'hidup' KPK.
Tap MPR VIII/2001 mengamanatkan pembentukan KPK tanpa ada batas waktu.
Bukan cuma itu. Selama sisa masa hidupnya tersebut KPK juga tak bolehrn melakukan penuntutan, hanya bisa menangani kasus kakap senilai Rp50 rnmiliar ke atas, harus meminta izin pengadilan untuk menyadap, serta bisarn menghentikan penyidikan.
Dalam rancangan revisi juga disebutkan perlunya dibentuk dewan eksekutif guna mencegah KPK menjadi lembaga superbodi.
Padahal, belum juga genap dua dasawarsa elite di rnnegeri ini dengan gegap gempita merancang pembentukan lembaga rnpemberantasan korupsi yang superbodi itu.
Sejarah telah mencatat bahwa spirit dari pembentukan rnKPK sebagai lembaga yang memiliki kewenangan super itu tak lain dan tak rnbukan ialah penilaian bahwa korupsi bukan kejahatan biasa, melainkan rnkejahatan luar biasa.
Karena premis mayornya ingin memberantas kejahatan rnluar biasa, premis minornya pun gamblang, yaitu harus menggunakan rncara-cara dan lembaga yang luar biasa pula. Apalagi, hingga kini aksi korupsi masih merajalela.
Survei indeks persepsi korupsi yang dirilis rnTransparency International pada 2015 menempatkan Indonesia di posisi 117rn negara terkorup dari 175 negara, dengan skor amat memprihatinkan, yaknirn 36 dari skala 0 hingga 100.
Betul bahwa angka tersebut telah membaik jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Tentu, salah satu musabab utamanya ialah gencarnya KPK melakukan penindakan setelah menyadap transaksi di ruang-ruang gelap.
Namun, angka 36 dari 100 tersebut jelas bukan nilai rnyang menggembirakan. Itu menandakan bahwa masih dibutuhkan upaya lebih rnkeras lagi dari bangsa ini untuk memerangi korupsi.
Menjadi sangat aneh ketika perang yang belum rnsignifikan menghasilkan kemenangan itu hendak dimentahkan melalui rnperlucutan senjata.
Logika sehat mana yang bisa menerima hal seperti itu?
Bukankah sebagian besar rakyat, sebagaimana tecermin dalam sejumlah survei, menghendaki KPK yang kuat?
Lalu mengapa DPR sebagai wakil rakyat justru berpikir sebaliknya?
Karena itu, mumpung rencana revisi UU tentang KPK belum berwujud menjadi aksi, batalkan saja niat yang mengingkari sejarah itu.
Kepada Presiden Joko Widodo kita berpesan agar rnkonsisten dengan sikap yang diambil selama ini, yakni menolak segala rnbentuk pelemahan KPK.
Perang melawan korupsi tidak boleh diakhiri kendati melalui jalan yang panjang, terjal, dan mendaki.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved