Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak. Dunia seakan masih tak percaya, Israel-AS akhirnya benar-benar menggunakan kekuatan militer sebagai penyelesai masalah. Bayangan perang dunia ketiga pun seakan sudah di pelupuk mata.
Serangan Israel-AS itu jelas tak akan dibiarkan oleh Iran. Mudah ditebak, begitu masa berkabung nasional berakhir atas wafatnya pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei akibat serangan itu, Iran akan menyerang balik dua negara tersebut.
Kekhawatiran akan terjadinya perang dunia ketiga sontak mengemuka. Israel-AS dipastikan akan mulai menggalang dukungan dari negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu utama mereka. Tentunya, serangan Israel-AS ke Iran pada akhir pekan lalu dilakukan berdasarkan kalkulasi yang matang, termasuk soal dukungan dari negara lain.
Sama halnya dengan Iran, mungkin serangan itu juga sudah diperhitungkan oleh pejabat-pejabat tinggi negeri Teluk Persia itu. Iran pasti sudah mengalkulasi bantuan dari negara mana saja yang bisa didapat jika pada akhirnya mesti berperang dengan Israel-AS.
Semua negara di dunia mafhum, Iran memiliki hubungan strategis dengan sejumlah raksasa dunia seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara. Karena itu, pertikaian Israel-AS dengan Iran tak dapat dianggap hanya sebagai konflik tiga negara.
Eskalasi konflik itu berpotensi memicu konflik global yang lebih luas. Jika mereka sudah sama-sama siap berperang, perang dunia ketiga tinggal menunggu waktu. Entah pelajaran apa yang mereka petik dari Perang Dunia I dan II.
Sebagai catatan, Perang Dunia I yang berlangsung pada 1914–1918 menyebabkan kematian lebih dari 15 juta hingga 22 juta orang, baik militer maupun sipil. Perang Dunia II jauh lebih dahsyat lagi. Perang yang berkobar di berbagai belahan dunia pada 1939–1945 itu diperkirakan menewaskan 60 juta–80 juta orang.
Perang Dunia II dikenal sebagai perang paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Itu baru bicara soal angka jumlah korban, belum bicara soal hancurnya jutaan tempat tinggal, rusaknya berbagai infrastruktur, dan utamanya lagi rusaknya perekonomian dunia.
Jika ditotal, jawabannya ialah semuanya merugi. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Saat itu, seluruh negara di dunia mengakui, kekerasan bukan menjadi jawaban dari berbagai persoalan. Penggunaan kekuatan militer hanya menambah panjang deretan kebodohan umat manusia dalam menyelesaikan pertikaian.
Karena itu, ketika Israel-AS menyerang Iran baru-baru ini, dunia dibuat terperangah karena masih ada negara yang gagal belajar dari pengalaman perang dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mesti turun tangan agar konflik itu tak meluas dan berkepanjangan. Semua negara yang tergabung di PBB harus segera menarik pertikaian itu ke meja perundingan. Negara-negara di dunia jangan sampai terpancing untuk memihak ke salah satu pihak yang bertikai.
Lewat prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia dapat mengambil peran strategis dalam penyelesaian konflik tersebut. Indonesia dapat mengajak semua pihak untuk kembali ke Piagam PBB, khususnya Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 2 ayat 7. Dua konsensus itu berbunyi, ‘Setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain’.
Indonesia juga bisa mengingatkan AS untuk segera kembali ke khitah Board of Peace, Dewan Perdamaian yang baru saja dibentuk Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026. Tentu aksi AS kali ini sangat bertentangan dengan semangat perdamaian itu.
Indonesia harus berhasil mengajak para pemimpin dunia untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan militer, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal. Sekali lagi perlu diingat, dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia.
Kita tidak ingin peradaban dan kemanusiaan dipertaruhkan untuk ambisi, baik ambisi kekuasaan maupun ambisi ekonomi.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved