Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH lebih dari dua dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman. Hari raya yang dulu dirayakan dalam sunyi dan bayang-bayang kecurigaan, kini hadir terbuka, semarak, dan menjadi bagian dari denyut ruang publik. Ornamen lampion menghiasi pusat perbelanjaan, pertunjukan barongsai tampil di ruang-ruang terbuka, dan ucapan selamat berseliweran tanpa rasa takut.
Generasi Z mungkin tak lagi merasakan getirnya masa ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi. Pada periode 1968–1999, Imlek hanya bisa dirayakan diam-diam. Negara kala itu memandang perbedaan sebagai potensi ancaman, bukan kekayaan.
Perubahan besar terjadi ketika Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, mencabut larangan perayaan Imlek dan membuka ruang kebebasan berekspresi bagi warga Tionghoa. Kebijakan itu diperkuat oleh Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional mulai 1 Januari 2003. Dua keputusan tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan tonggak etik kebangsaan, yakni pengakuan bahwa setiap identitas budaya memiliki tempat setara dalam rumah Indonesia.
Dari sanalah relasi antarwarga tidak lagi berhenti pada toleransi pasif atau sekadar hidup berdampingan tanpa saling mengusik, melainkan bergerak menuju harmoni aktif menjadi saling berbagi ruang, saling menghormati, dan saling merayakan.
Namun, harmoni tidak turun dari langit. Ia bukan hadiah cuma-cuma, melainkan buah dari kerja panjang, keberanian politik, dan kesediaan sosial untuk saling memahami. Harmoni juga bukan kondisi final yang kebal guncangan. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperbarui dari waktu ke waktu. Kebangsaan adalah tenun yang tak boleh berhenti dirajut.
Tahun ini, perayaan Imlek berdekatan dengan awal bulan suci Ramadan. Momentum yang berkelindan ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Di satu sisi, umat Konghucu dan warga Tionghoa merayakan tahun baru dengan harapan dan sukacita. Di sisi lain, umat Islam bersiap memasuki bulan penuh pengendalian diri dan penyucian jiwa. Dua perayaan berbeda itu bertemu dalam satu lanskap kebangsaan.
Di titik inilah para pemimpin, baik formal maupun moral, dituntut menghadirkan narasi kesejukan. Jangan biarkan ruang publik dipenuhi eksploitasi perbedaan dan gema kebencian. Perbedaan bukan bahan bakar konflik, melainkan energi untuk memperkaya peradaban.
Imlek yang berdampingan dengan Ramadan adalah pengingat bahwa Indonesia bukan rumah kontrakan, di mana sebagian merasa sebagai pemilik sah dan yang lain sekadar penyewa. Semua anak bangsa adalah pemilik kedaulatan dan kedamaian negeri ini. Tidak ada 'anak kampung sini' dan 'pendatang' dalam bingkai konstitusi. Yang ada hanyalah warga negara dengan hak dan kewajiban setara.
Para pendiri bangsa telah menyadari realitas itu sejak awal. Mereka merumuskan Pancasila sebagai fondasi, bukan untuk menyeragamkan warna, melainkan demi menyatukan perbedaan dalam satu cita-cita bersama. Indonesia tidak dibangun di atas satu identitas tunggal, tetapi dari mosaik budaya, agama, dan etnis yang saling melengkapi.
Karena itu, momentum Imlek dan Ramadan semestinya menjadi ruang dialog dan penguatan empati lintas iman. Menghargai keyakinan orang lain bukanlah kompromi terhadap iman sendiri, melainkan tanda kedewasaan berbangsa. Ibadah yang khusyuk tidak pernah membutuhkan kebencian sebagai penopang.
Negara tentu memikul tanggung jawab utama untuk memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadah tanpa rasa khawatir. Aparat keamanan harus hadir bukan sekadar sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai penjamin rasa aman. Namun, harmoni tidak cukup dijaga oleh negara semata. Tokoh agama, tokoh adat, dan pemimpin komunitas memiliki peran strategis membangun narasi kebersamaan. Mimbar-mimbar keagamaan harus menjadi ruang penyemaian kasih, bukan panggung penyulut curiga.
Imlek dan Ramadan adalah dua benang berbeda dalam satu tenunan kebangsaan. Masing-masing memiliki warna dan karakter yang khas. Justru karena berbeda, kain itu menjadi indah dan kuat. Jika satu benang dicabut, tenunan akan rapuh.
Ketika Imlek dan Ramadan datang beriringan, kita diingatkan kembali bahwa keragaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Tugas kita ialah memastikan perayaan Imlek berlangsung aman dan penuh sukacita, sekaligus menyambut Ramadan dengan ketenangan dan kekhusyukan.
Di atas segala perbedaan, kita berbagi tanah air yang sama. Dan, di bawah Merah Putih yang sama, kebangsaan harus terus dirajut hari ini, esok, dan seterusnya.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved