Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA sebuah ungkapan pendek yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menyimpan peringatan keras atas kondisi dunia hari ini, yakni tobat ekologis. Sebuah kiasan yang menggambarkan bahwa perilaku manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan ekosistem sudah sedemikian parah.
Pertobatan ekologis inilah yang menggema dalam peringatan Natal 2025 di tengah bencana banjir bandang yang telah meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menggaungkan seruan moral tersebut, mengajak semua untuk merefleksikan dampak bencana banjir yang sudah sebulan terakhir melanda tiga provinsi di Sumatra itu.
Peringatan tersebut menandaskan bahwa bencana yang terjadi bukan lagi sekadar urusan cuaca ekstrem. Bencana itu adalah hasil dari akumulasi kebijakan eksploitatif yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Secara garis besar bisa diringkas sebagai praktik hilirisasi ekonomi yang minim tanggung jawab untuk melakukan konservasi.
Alam tentu punya ambang batas. Ketika batas itu terlampaui, kerusakan tidak lagi linear, melainkan eksponensial. Bencana di Sumatra seharusnya cukup untuk menjadi alarm keras bahwa perilaku kolektif manusia di negeri ini telah menerobos batas tersebut.
Seruan yang menyeruak di Hari Natal ini adalah panggilan untuk bergerak sekarang, dengan kesadaran, keberanian, dan komitmen kolektif, agar negeri ini tidak terus-menerus berkabung akibat kealpaan dalam pelestarian lingkungan.
Tobat bukan sekadar penyesalan moral, melainkan juga perubahan arah kebijakan. Berhenti dari kesalahan, memperbaiki kerusakan, dan berkomitmen tidak mengulangi perilaku eksploitatif yang tanpa kontrol.
Saatnya seluruh elemen bangsa ini mengakui bahwa model pembangunan eksploitatif telah melampaui batas. Karena itu, hentikan kerusakan yang sedang berlangsung, pulihkan ekosistem yang rusak, dan ubahlah paradigma dari eksploitasi menuju pemanfaatan sumber daya yang bertanggung jawab.
Setiap genangan banjir, setiap longsor, setiap jerit korban adalah pengingat bahwa kita terus berkejaran dengan waktu. Jika pertobatan ekologis terus ditunda, yang diwariskan bukanlah kemajuan, melainkan krisis yang kian dalam.
Mengutip ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Suharyo menyebut dunia sebagai rumah bersama, tempat kerusakan yang dilakukan kelompok kuat dan kaya sering kali ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin. Inilah yang kini terjadi di Sumatra, konglomerasi yang menikmati hasil pembabatan hutan, rakyat kecil yang menanggung akibat bencananya.
Pertobatan ekologis inilah yang harus segera dimulai oleh para elite di pemerintahan. Jangan biarkan eksploitasi sumber daya alam berjalan tanpa konservasi, karena yang akan terjadi bukan pembangunan, melainkan pemindahan risiko dari hari ini ke masa depan. Keuntungan dinikmati sekarang, kerusakan diwariskan kepada anak cucu.
Dalam situasi krisis ekologis, arah kebijakan pemerintah semestinya tidak berhenti pada agenda hilirisasi belaka, tetapi justru dimulai dari hulunya. Sumber-sumber kehidupan harus dijaga terlebih dahulu sebelum hasilnya dimanfaatkan.
Hutan perlu dilindungi sebelum dijadikan komoditas karbon. Air harus diamankan sebelum kawasan industri diperluas. Dan, tanah wajib dipulihkan sebelum ambisi ekspor pangan dikejar. Ini bukan sekadar idealisme lingkungan, melainkan nalar paling dasar untuk memastikan kelangsungan hidup.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved