Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA sebenarnya sudah kenyang dengan beragam upaya manipulasi oleh negara. Namun, kali ini, rasanya lebih menyesakkan. Upaya manipulasi yang kini dilakukan bukan lagi sekadar soal angka-angka ekonomi, data penduduk, suara pemilih, atau beragam hal lain di seputar isu politik, melainkan menyangkut masa lampau. Tentang sejarah.
Itu pun bukan sekadar satu catatan sejarah. Ada banyak rangkaian sejarah, ada rentetan peristiwa besar yang terjadi di negeri ini yang tampaknya sedang coba diutak-atik melalui proyek penulisan ulang sejarah Indonesia. Proyek ini dimotori Kementerian Kebudayaan, khususnya Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Sedari awal, rencana penulisan ulang sejarah itu sudah menuai polemik. Awalnya hanya berkisar pada istilah-istilah yang dipakai, yang tidak sesuai dengan istilah keilmuwan, yang bahkan sampai membuat seorang profesor sejarah memilih mundur. Namun, seiring waktu, polemik terus berkembang, bahkan mengarah pada kaburnya sejarah yang dimasukkan.
Hal tersebut terutama terlihat pada jilid 9 yang berisi sejarah Indonesia di masa Orde Baru. Bab ke-7 dari total 8 bab pada jilid itu sekilas terlihat sebagai upaya keberimbangan, walau sangat minim, dengan dimuatnya tragedi HAM yang terjadi di masa Orde Baru.
Akan tetapi, peristiwa berdarah yang dimasukkan pun hanya Tanjung Priok 1984 dan Talangsari 1989. Tidak ada sejarah tentang krisis moneter 1997, kerusuhan dan pemerkosaan massal 1998, penghilangan paksa aktivis 1997-1998, juga tragedi Trisakti serta Semanggi I dan II. Padahal tragedi-tragedi HAM tersebut termuat dalam buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah.
Penghilangan sejumlah peristiwa pada periode-periode tertentu itu jelas merupakan upaya manipulasi teks sejarah. Apalagi kemudian muncul pula pernyataan dari Menbud Fadli Zon yang menyangkal telah terjadi kekerasan seksual dan pemerkosaan massal dalam peristiwa Mei 1998. Menurutnya, itu hanyalah rumor karena ketiadaan bukti.
Pernyataan yang kemudian mendapat protes keras dari masyarakat sipil tersebut makin menegaskan keyakinan bahwa memang ada upaya pembelokan sejarah sesuai dengan kehendak penguasa. Fadli Zon dianggap tak punya sedikit pun empati terhadap korban sekaligus mengaburkan fakta yang menjadi kesimpulan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan Mei 1998.
Dalam salah satu kesimpulan TGPF dikatakan, "Dari sejumlah kasus yang dapat diverifikasi, dapat disimpulkan telah terjadi pemerkosaan yang dilakukan terhadap sejumlah perempuan oleh sejumlah pelaku di berbagai tempat yang berbeda dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan."
Amat wajar bila kemudian masyarakat menduga-duga ada tujuan apa di balik kasak-kusuk pemerintah berupaya memanipulasi atau membelokkan penulisan sejarah. Kesan yang tertangkap dari upaya ngotot tersebut justru membuktikan adagium lawas yang berbunyi, ‘sejarah ditulis oleh pemenang’, memang benar adanya.
Sejujurnya hal tersebut sangat berbahaya karena sejarah yang dibelokkan dapat dijadikan legitimasi oleh penguasa untuk menghapus dosa-dosa masa lalu. Yang tak kalah mencemaskan, boleh jadi pula pengaburan sejarah itu berkelindan dengan pengejaran ambisi atau kepentingan politik sesaat.
Dugaan dan kecurigaan publik semacam itu semestinya tak dianggap sepele pemerintah. Mereka harus responsif terhadap segala bentuk protes dan kritik atas dugaan adanya rekayasa penulisan ulang sejarah tersebut.
Sejarah sejatinya bukan milik pemenang, bukan semata kepunyaan penguasa. Penulisan sejarah semestinya disusun secara objektif berdasarkan fakta sebenarnya. Sejarah yang melenceng harus diluruskan. Jangan sebaliknya, sejarah yang sudah lurus malah dibelok-belokkan.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved