Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMPAI kapan pun, terorisme memang tak boleh dianggap enteng. Terorisme ialah kejahatan kemanusiaan. Ia tak mengenal agama, begitu juga ia tidak mengenal etnik, ras, wilayah, atau batasan-batasan yang lain. Sudah banyak contoh yang memperlihatkan aksi terorisme melampaui batas-batas itu, termasuk batas negara.
Terorisme juga tak melulu tumbuh dan digerakkan dalam sel-sel jaringan atau organisasi. Ia bahkan bisa bergerak secara individual. Digerakkan motif dan inisiatif sendiri, tanpa garis komando, tanpa doktrinasi kolektif. Namun, yang pasti, ancaman terorisme itu kian nyata, bahkan semakin terang-terangan.
Teror penembakan terhadap jemaah salat Jumat di dua masjid di Selandia Baru, Jumat (15/3), ialah bukti bahwa terorisme bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, kapan saja, dan dilandasi kepentingan serta motif apa saja.
Brenton Tarrant, warga negara Australia, pelaku penembakan itu bukan anggota jaringan terorisme. Tarrant bergerak dengan modal, keinginan, dan tujuan sendiri. Hanya didasari kebencian terhadap imigran-imigran muslim, Tarrant yang sebelumnya cuma 'orang kulit putih biasa, dari keluarga biasa' seketika berubah wujud menjadi seorang teroris.
Aksi kejam nan brutal itu pun kian mengukuhkan berbagai seruan nyaring dalam berbagai forum bahwa tatanan dunia yang damai sedang dikoyak-koyak sikap intoleran dan diskriminatif dari mereka yang tidak mengakui harkat manusia. Sekali lagi, terorisme ialah kejahatan yang menginjak-injak prinsip kemanusiaan.
Dalam konteks dalam negeri Indonesia, kejadian di Selandia Baru itu, mau tidak mau, harus dibaca sebagai peringatan amat serius kepada pengelola negeri ini untuk tidak sekali pun mengendurkan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme.
Betul bahwa terorisme di Indonesia masih didominasi pelaku-pelaku yang tergabung dalam jaringan atau kelompok teroris. Tiga hari sebelum aksi Tarrant pun, polisi menangkap terduga teroris Abu Hamzah di Sibolga, Sumatra Utara, Selasa (12/3). Sungguh ironis, dalam penangkapan itu, istri Abu Hamzah tewas dengan meledakkan diri.
Namun, itu bukan berarti tertutup kemungkinan teror individual seperti di Selandia Baru bakal terjadi di Indonesia. Justru, editorial ini ingin mengingatkan semua pihak agar tidak kehilangan kewaspadaan, lebih menguatkan keamanan dan pertahanan negara dari sekecil apa pun ancaman terorisme.
Senyatanya terorisme yang dilakukan secara individual itu ada dan sudah banyak terjadi di depan mata. Boleh jadi pergerakannya malah lebih berbahaya karena tidak gampang terdeteksi. Bahkan, karena gerakannya yang di luar struktur, dia mungkin sama sekali tidak terendus.
Hal itu tentu membutuhkan tingkat kewaspadaan dan kesigapan level tinggi dari seluruh elemen, terutama Polri sebagai ujung tombak pemberantasan terorisme. Kelengahan hanya akan berujung petaka, sesuai dengan tujuan para pelaku teror, yakni menebar malapetaka ke seluruh penjuru negeri.
Dalam upaya lain, kita perlu meneguhkan kembali perlawanan terhadap bibit-bibit terorisme, seperti intoleransi dan radikalisme. Bibit atau benih itu harus betul-betul dimatikan, jangan sampai ia dibiarkan tumbuh apalagi disiram dengan narasi-narasi kebencian dan fanatisme kebablasan.
Siapa pun tak patut membolehkan narasi-narasi keji seperti itu lebih menguasai ruang publik ketimbang dialog yang mencerahkan. Kita khawatir, kalau semua itu dibiarkan, perang melawan terorisme barangkali tak akan pernah berakhir gemilang.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved