Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah studi yang dilakukan oleh Adobe menemukan fakta 83% pengguna emoji yang kerap digunakan dalam aktiviotas di media sosial di ingin agar gambar digital tersebut bisa lebih kaya dan mewakili keberagaman manusia. Mulai dari ras hingga orang dengan disabilitas.
Dilansir dari cnn.com, Sabtu, (17/4), studi berjudul Global Emoji Diversity & Inclusion tersebut dilakukan dengan melibatkan tujuh ribu responden dari tujuh negara. Seluruhnya ialah Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Jepang, Prancis, Australia, dan Korea Selatan.
Selain keinginan untuk peningkatan keragaman, studi tersebut juga menyatakan hanya 37% orang dengan disabilitas merasa puas dan terwakili ekspresi tubuhnya dengan emoji yang ada saat ini.
"Keragaman budaya menjadi kategori pertama yang diinginkan oleh reaponden untuk lebih ditingkatkan variasinya. Diikuti oleh umur dan ras," ujar typeface designer dan font developer Adobe, Paul Hunt.
Hunt mengatakan, umumnya responden yang ingin agar emoji diperkaya pilihannya ialah mereka yang masuk kategori gen Z/milenial atau mereka yang lahir dalam rentang waktu tahun 1995 sampai dengan tahun 2010.
Dari wilayah Amerika Serikat dan Inggris Raya, yang menginginkan adanya variasi lebih banyak pada emoji 80% ialah warga dengan ras kulit hitam. Angka itu menjadi yang tertinggi diikuti warga Anerika Latin sebesar 78%, dan warga Asia sebesar 71%.
Umumnya mereka menginginkan lebih banyak variasi dalam hal ciri fisik tubuh, mulai warna kulit, gaya rambut, gaya berbusana, hingga bentuk dan ukuran tubuh. (M-4)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Agar anak-anak lebih semangat belajar, Bunda bisa memanfaatkan konten video pembelajaran yang dikemas menarik. Dengan cara itu, proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
Indonesia Hidden Heritage Creative Hub mencoba melangkah lebih jauh dari sekadar saran dengan membuat wadah pertemuan antara para profesional museum, penggiat museum, dan industri.
PARA milenial dan Generasi Z yang ada di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, antusias mengikuti ngobrol bareng bersama dengan calon presiden Ganjar Pranowo.
RAGAM ketidakpastian di era globalisasi menuntut pembelajaran yang berkelanjutan dari generasi muda agar mampu berperan aktif dalam proses pembangunan dan memenangi persaingan
Salah satu pekerjaan rumah adalah menggaet generasi muda agar tertarik mengenakan batik dalam aktivitas sehari-hari mereka.
HILANGNYA budaya leluhur di era modern sungguh disayangkan. Terlebih bagi anak-anak muda Gen Z saat ini lebih condong mengadopsi budaya luar dibandingkan budaya Nusantara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved