Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemilu terpisah yang diasumsikan akan meningkatkan akuntabilitas politik tidak didukung oleh bukti empiris.
“Pertanyaannya, benarkah dengan memisahkan pemilu nasional dan pemilu daerah itu akan menciptakan akuntabilitas politik seperti yang diasumsikan dalam putusan MK?” ujar Arya dalam rapat dengar pendapat (RDPU) bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Senayan, Selasa (20/1).
Menurutnya, anggapan bahwa jeda waktu pemilu membuat pemilih lebih rasional dalam memberi reward dan punishment kepada partai politik merupakan asumsi kausal yang lemah.
“Kita seolah menganggap kalau pemilu dipisah, isu lokal otomatis menguat dan akuntabilitas meningkat. Padahal literatur komparatif pemilu tidak mendukung asumsi kausalitas itu,” katanya.
Arya merujuk pada pengalaman sejumlah negara di Amerika Latin yang justru menunjukkan dampak sebaliknya dari penerapan pemisahan pemilu pusat dan lokal.
“Di banyak negara Amerika Latin, konflik politik di daerah justru makin terbuka ketika pemilu nasional dan daerah dipisah karena tidak ada cooling period setelah pembentukan pemerintahan nasional,” jelasnya.
Selain itu, pemisahan pemilu juga tidak otomatis memperkuat desentralisasi. Struktur insentif politik Indonesia yang masih tersentralisasi membuat kompetisi elit nasional tetap berlanjut di level daerah.
“Dalam sistem multipartai dengan struktur partai yang terpusat, pemilu terpisah justru berisiko memperpanjang siklus konflik politik dan memusatkan kembali perhatian pada elite, bukan isu lokal,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia menegaskan bahwa asumsi yang selama ini berkembang mengenai pemisahan pemilu akan otomatis meningkatkan akuntabilitas politik tidak sepenuhnya didukung oleh bukti empiris. (Dev/P-3)
Militer Ukraina sebut kerugian personel Rusia capai 1,29 juta jiwa per Maret 2026. Analis independen CSIS perkirakan rasio korban Rusia banding Ukraina capai 2,5 banding 1.
Peneliti CSIS Nicky Fahrizal menyebut kultur kekerasan di Polri berakar dari kurikulum pendidikan yang masih militeristik. Perlu dekonstruksi total pada SPN dan sistem meritokrasi.
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Struktur kekuatan partai politik di Indonesia saat ini belum merata di seluruh wilayah.
Berdasarkan data komparatif internasional, sistem campuran justru berisiko menimbulkan ketimpangan antara perolehan suara dan kursi di parlemen.
LBH Padang menilai pelaporan pidana terhadap akademikus Feri Amsari sebagai menyempitnya ruang kebebasan sipil dan akademik di Indonesia.
Pemuda diajak untuk aktif menjalankan peran sebagai penjaga persatuan melalui penguatan program kebangsaan di tengah dinamika isu pemakzulan Presiden yang berkembang di ruang publik.
Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia, Haris Pertama, menyoroti munculnya sejumlah gerakan yang mendorong pemakzulan Presiden Prabowo Subianto.
Merah Putih Stratejik Indonesia (MPSI) melaporkan Saiful Mujani atas dugaan ajakan untuk menjatuhkan Presiden di luar mekanisme konstitusional kepada aparat penegak hukum.
DIREKTUR Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus merupakan sikap antidemokrasi dan ketidakmauan menerima kritik.
Setara Institute sebut penyiraman air keras Andrie Yunus (KontraS) sebagai alarm bahaya bagi demokrasi. Polisi didesak bongkar aktor intelektual serangan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved