Hadapi El Nino Godzilla, Perkumpulan Hijau Minta Sumur Bor BRGM Dievaluasi

Solmi
23/4/2026 22:26
Hadapi El Nino Godzilla, Perkumpulan Hijau Minta Sumur Bor BRGM Dievaluasi
Direktur Perkumpulan Hijau Feri Irawan saat memantau kebakaran lahan gambut di wilayah timur Provinsi Jambi.(MI/Solmi)

PERKUMPULAN Hijau, lembaga nonpemerintah peduli lingkungan di Jambi, mendesak supaya sumur-sumur bor Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BGRM) di sejumlah kabupaten di Jambi di evaluasi.

“Kita sedang menghadapi potensi El Nino Godzilla. Bukan kondisi normal, ini situasi ekstrem yang membutuhkan kesiapan mesti ekstrem pula. Kalau ratusan sumur bor tidak berfungsi, maka itu bukan sekadar kelalaian teknis. Itu adalah kegagalan sistemik dalam mitigasi bencana,” tegas Direktur Perkumpulan Hijau Feri Irawan.

Sebab itu, tegas Feri Irawan, evaluasi terhadap sumur-sumur bor yang dibangun oleh pihak BGRM hendaknya dievaluasi. Melalui langkah tersebut, setiap sumur bor yang tersebar di sejumlah lokasi lahan gambut di Jambi, diyakini bakal mampu dan efektif memitigasi dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi terjadi akibat El Nino Godzilla.

Feri Irawan menjelaskan, fenomena El Nino Godzilla merujuk pada kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang sangat kuat. Dampaknya menyebabkan kemarau panjang, penurunan curah hujan drastis, serta pengeringan masif ekosistem gambut. 

“Dalam situasi ini, lahan gambut bakal sangat mudah terbakar, bahkan dapat memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan,” kata Feri mengingatkan.

Ia membeberkan, berdasarkan kompilasi data lapangan dan laporan program yang didapatkan Perkumpulan Hijau,  jumlah sumur bor yang telah dibangun BRGM di Provinsi Jambi diperkirakan mencapai 800-1.200 unit. Namun Perkumpulan Hijau menilai, angka besar tersebut tidak berbanding lurus dengan kesiapan di lapangan.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi kekeringan panjang, muka air tanah gambut akan turun drastis hingga ke lapisan dalam. Jika sumur bor tidak mampu menyediakan air atau tidak dapat dioperasikan, maka api yang muncul akan dengan cepat menjalar ke bawah permukaan dan menjadi kebakaran laten yang sangat sulit dipadamkan.

“Jangan sampai pembangunan ribuan sumur bor hanya berhenti sebagai angka dalam laporan. Dalam situasi ancaman El Nino ekstrem, yang dibutuhkan bukan jumlah, tetapi fungsi nyata di lapangan. Kalau tidak berfungsi saat dibutuhkan, maka keberadaannya menjadi tidak relevan,” tegasnya.

Perkumpulan Hijau memandang bahwa kesiapan menghadapi El Nino Godzilla tidak bisa ditunda. Dampak buruknya, tidak hanya pada kerusakan lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi daerah, serta reputasi penanganan karhutla di tingkat nasional.

“Ini bukan sekadar isu lingkungan. Ini soal krisis. Jika infrastruktur dasar seperti sumur bor tidak siap, maka kita sedang menghadapi bencana dengan kondisi yang tidak siap. Itu yang kami khawatirkan,” tutupnya.(SL/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya