Hutan Lawu Sering Terbakar saat El Nino, BPBD Karanganyar Aktifkan Relawan Peduli Api

Widjajadi
24/4/2026 19:40
Hutan Lawu Sering Terbakar saat El Nino, BPBD Karanganyar Aktifkan Relawan Peduli Api
Kebakaran hutan Lawu pada 2023.(MI/Widjajadi)

AANCAMAN kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi wilayah lereng Lawu, bersamaan bergulirnya musim kemarau tahun ini yang diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bakal lebih lama dan kering. Hampir setiap musim kemarau, selalu ada bagian hutan Lawu yang terbakar.

Karena itu, menghadapi fenomena alam El Nino yang diperkirakan lebih kering dan akan mencapai puncak pada pertengahan ini, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, melakukan kesiagaan tinggi, seperti menyiapkan relawan peduli api, guna mencegah karhutla di kawasan Lawu.

"Kami telah berkoordinasi dengan Perhutani, polisi kehutanan serta mendorong relawan peduli api agar meningkatkan kewaspadaan, menghadapi musim kemarau yang lebih kering yang disebut sebagai fenomena El Nino Godzilla. Hutan Lawu setiap musim kemarau, sering muncul  kebakaran," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno ketika dikonfirmasi, Jumat ( 24/4/2026).

Menurut dia, masyarakat peduli api ( MPA ) akan menjadi garda terdepan dalam mencegah kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu. Keberadaan para relawan ini menjadi perpanjangan tangan BPBD Karanganyar untuk menyosialisasikan pencegahan karhutla, baik kepada masyarakat sekitar hutan maupun para pendaki.

Edukasi yang diberikan meliputi cara beraktivitas yang aman di kawasan hutan Lawu, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan dan memastikan api benar-benar padam usai digunakan.

Data yang diperoleh Media Indonesia dari KPH Lawu selama 10 tahun terakhir ini menunjukkan,  kebakaran hutan selalu muncul ketika kemarau menggantang lingkungan hutan. Paling parah pada 2018 saat terjadi kebakaran yang menghanguskan ratusan hektar, yakni Petak 63-64 Cemoro Kandang.

Kalakhar BPBD Karanganyar menyebutkan faktor penyebab kebakaran Lawu, paling banyak disebabkan oleh ulah manusia, bahkan mencapak  90 persen. Seperti puntung rokok dari pendaki buang  sembarangan di sabana kering.

"Juga api unggun dari kemping lia. Ketika bara api tidak dimatikan sempurna dan tertiup angin yang menjado penyukut kebakaran, lalu pembukaan lahan, aktivitas ilegal pemburu yang bikin api untuk menghalau hewan. Selebihnya, yakni 10 % kebakaran disebabkan faktor alam," kata dia.

Ia memberikan ilustrasi, sewaktu kemarau panjang dan angin bertiup kencang, dan memunculkan kebakaran tahun 2023, yang mana api cepar merembet  ke petak lain.  Lalu lereng curam saat muncul api, yang membuat susah upaya pemadaman, itu menjadi bagian kebakaran karena faktor alam.

Hendro menegaskan, bahwa masyarakat perlu mewaspadai fenomena transisi dari La Nina menuju El Nino tahun ini, akan memicu kekeringan yang jauh lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jejak kebakaran karhutla Lawu selama ini,  risiko tinggi terjadi hutan Jenawi, Ngargoyoso, dan Tawangmangu. " Selalu menjadi titik pantauan utama karena memiliki area hutan yang luas dan rawan terbakar saat cuaca ekstrem," pungkas Hendro. (WJ)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya