Sosok Iyan Yuliantini, Guru di Tasikmalaya yang Berdayakan Disabilitas Lewat Telur Asin

Adi Krtistiadi
22/4/2026 20:59
Sosok Iyan Yuliantini, Guru di Tasikmalaya yang Berdayakan Disabilitas Lewat Telur Asin
Iyan Yuliantini (60), seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat(Dok. MI)

SEMANGAT Kartini modern terpancar nyata dari sosok Iyan Yuliantini (60), seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Di masa purnatugasnya, ia tidak memilih untuk beristirahat, melainkan terus mengabdikan hidupnya demi kesetaraan penyandang disabilitas melalui pemberdayaan ekonomi.

Iyan merintis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produksi telur asin yang diberi label "Cap Disabilitas". Usaha ini bukan sekadar bisnis komersial, melainkan wadah bagi tujuh alumni SLB dari berbagai sekolah di Kecamatan Indihiang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mandiri.

Dedikasi sejak Muda

Perjuangan Iyan bagi kaum disabilitas telah dimulai sejak ia berusia 20 tahun. Selama puluhan tahun menjadi pendidik, ia konsisten membela hak-hak penyandang disabilitas agar tidak dipandang rendah atau terasingkan oleh masyarakat umum. Setelah pensiun, semangatnya justru semakin membara melalui Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas).

"Anak penyandang disabilitas bagi saya adalah obat segalanya. Melihat mereka tertawa dan bahagia adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya," ujar Iyan saat ditemui pada Rabu (22/4/2026). Ia mencatat, di Kota Tasikmalaya terdapat lebih dari 750 siswa SLB dan sekitar 2.000 penyandang disabilitas dewasa yang membutuhkan perhatian serta akses kemandirian.

Falsafah di Balik Sebutir Telur Asin

Iyan menjelaskan bahwa produksi telur asin ini memiliki falsafah mendalam bagi kaum disabilitas. Proses pengolahan cangkang telur dengan tingkat sterilisasi tinggi mencerminkan perlindungan, sementara bagian dalam telur yang tetap bersih melambangkan kemurnian potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas.

Dalam proses produksinya, para alumni SLB diajarkan ketelitian dan konsentrasi tinggi, terutama dalam menjaga kebersihan. "Jika tidak bersih, telur akan busuk saat proses pematangan. Ini mengajarkan mereka untuk disiplin dan mandiri, sehingga mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orang lain, termasuk orang tua mereka," tambah Iyan.

Mandiri Tanpa Dukungan Pemerintah

Meski memberikan dampak sosial yang nyata bagi penyerapan tenaga kerja disabilitas, Iyan mengaku hingga saat ini usahanya dijalankan secara swadaya tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah. Proses produksi yang meliputi penyenteran, pencucian, pengamplasan, hingga pembungkusan dengan adonan batu bata merah dan garam korosok, semuanya dilakukan di kediamannya sejak tahun 2024.

Melalui momentum Hari Kartini ini, Iyan berharap masyarakat dan pemangku kepentingan lebih peduli terhadap karya nyata kaum disabilitas. Baginya, kemandirian ekonomi adalah kunci utama agar penyandang disabilitas dapat hidup bermartabat di tengah masyarakat. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya