Indonesia Hadapi Krisis Guru: Gelombang Pensiun Capai 70 Ribu per Tahun

Agus Utantoro
18/4/2026 17:51
Indonesia Hadapi Krisis Guru: Gelombang Pensiun Capai 70 Ribu per Tahun
Para guru dan siswa di SD Negeri 13 Pagi, Pondok Labu, Jakarta Selatan.(Dok. MI/Ramdani)

DUNIA pendidikan Indonesia tengah berada di ambang krisis tenaga pendidik yang serius. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah guru di semua jenjang pendidikan yang memasuki masa pensiun melonjak tajam, menciptakan lubang besar dan ancaman krisis guru dalam sistem pengajaran nasional.

Estimasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam dokumen Revitalisasi LPTK mengindikasikan angka sekitar 66.188 guru akan pensiun pada tahun 2025. Tren ini diprediksi terus berlanjut dengan rata-rata sekitar 60.000 guru purnatugas setiap tahunnya hingga 2030.

"Secara struktural, kondisi ini berpotensi menciptakan kekosongan signifikan dalam sistem pendidikan," tegas Prof. Dian Artha Kusumaningtyas dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Ranting Ilmu/Kepakaran Evaluasi Pembelajaran Fisika Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (18/4).

Dalam pidato berjudul "Reframing Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi", Prof. Dian memperingatkan bahwa tingginya angka pensiun yang tidak dibarengi dengan perencanaan rekrutmen sistemik akan menimbulkan krisis guru dan berdampak fatal bagi kualitas pendidikan di tanah air.

Ketimpangan Suplai dan Kebutuhan

Berdasarkan data Kemendikbudristek tahun 2024, kekurangan guru secara akumulatif telah mencapai 1.312.759 orang. Angka fantastis ini merupakan konsekuensi dari gelombang pensiun yang masif serta terbatasnya rekrutmen pada periode-periode sebelumnya.

Di sisi lain, kapasitas produksi guru baru melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan masih sangat terbatas. "Kapasitas lulusan PPG Prajabatan pada satu periode rekrutmen hanya berkisar antara 27.000 hingga 30.000 orang. Angka ini jelas tidak sebanding dengan laju pensiun yang mencapai 60.000 hingga 70.000 guru per tahun," jelas Prof. Dian.

Data Rasio Guru dan Siswa di Tingkat SMA (Sampel Wilayah):

Provinsi Jumlah Guru Jumlah Siswa Rasio
Jawa Barat 26.885 541.246 1:20
Jawa Tengah 18.396 347.588 1:19
Banten 6.596 147.612 1:22
Sumatera Utara 16.345 252.462 1:15
Aceh 12.829 122.127 1:9,5

Distribusi Spasial dan Tantangan Global

Prof. Dian menekankan bahwa persoalan regenerasi guru tidak bisa hanya diselesaikan dengan pendekatan angka nasional. Perlu perhatian khusus pada distribusi spasial dan beban mengajar yang timpang, terutama di Pulau Jawa yang memiliki rasio beban guru jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

Selain faktor internal, dinamika ini juga dipengaruhi oleh perubahan aspirasi generasi muda. Meningkatnya minat lulusan sekolah menengah untuk menempuh studi ke luar negeri mencerminkan orientasi global yang kuat. Motivasi ini didorong oleh keinginan mendapatkan akses pendidikan maju dan prospek karier internasional.

Ancaman Defisit Guru Fisika

Secara spesifik, Prof. Dian menyoroti ketersediaan guru Fisika. Dari total sekitar 360.010 guru SMA di Indonesia, estimasi guru Fisika hanya berada pada kisaran 21.600 hingga 25.200 orang.

Ia memperingatkan bahwa tanpa kebijakan rekrutmen yang terarah berdasarkan bidang studi, defisit guru Fisika dalam dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi kenyataan yang pahit. Hal ini diperumit dengan kecenderungan calon guru yang lebih memilih mobilitas internasional untuk menjaga relevansi kompetensi mereka di tingkat global.

"Diperlukan strategi profesional yang matang untuk memastikan regenerasi guru, khususnya di bidang sains, tetap terjaga demi masa depan intelektual bangsa," pungkasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya