Ikan Sapu-Sapu Jakarta Sulit Habis? Nelayan: Sekali Menetas Bisa Ribuan, seperti Nyamuk

Media Indonesia
16/4/2026 17:56
Ikan Sapu-Sapu Jakarta Sulit Habis? Nelayan: Sekali Menetas Bisa Ribuan, seperti Nyamuk
Warga melempar jala untuk mencari ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

RENCANA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membersihkan ikan sapu-sapu secara serentak pada Jumat (17/4) mendapat tanggapan para nelayan di Sungai Ciliwung, kawasan Kalibata. Mereka menilai upaya pemberantasan total terhadap spesies invasif ini hampir mustahil dilakukan secara tuntas.

Ajum, 39, seorang nelayan yang setiap hari bergelut dengan arus Ciliwung, mengakui bahwa meskipun ikan sapu-sapu adalah hama, kemampuan adaptasi dan reproduksi mereka jauh melampaui kecepatan penangkapan manusia.

Kenapa ikan Sapu-Sapu Sulit Dimusnahkan?

Menurut Ajum, populasi ikan ini sangat sulit dikendalikan meski penangkapan dilakukan secara rutin setiap hari. Satu induk ikan sapu-sapu mampu menghasilkan ratusan hingga ribuan telur dalam sekali siklus perkembangbiakan.

"Memang bagus dibersihkan karena hama, tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya," kata Ajum di bantaran Ciliwung, Kamis (16/4).

Ia mengibaratkan keberadaan ikan ini seperti gangguan hama yang menetap. “Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas. Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," tambahnya.

Meski Pemprov DKI Jakarta telah memperingatkan bahaya konsumsi ikan ini karena kandungan logam berat, realitas di lapangan menunjukkan sisi lain. Ikan sapu-sapu telah lama menjadi tumpuan ekonomi bagi sebagian masyarakat bantaran sungai.

Hasil tangkapan nelayan biasanya bermuara di pengepul untuk diolah menjadi bahan baku berbagai panganan rakyat seperti cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk. Ajum melihat ada sisi ambivalen dalam masalah ini.

“Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” ucapnya.

Pemerintah sendiri tetap teguh pada rencana pembersihan massal. Ikan sapu-sapu terbukti menjadi ancaman bagi infrastruktur kota karena kebiasaan mereka melubangi tanggul sungai untuk bersarang, yang memicu kerusakan fisik dan erosi. Selain itu, sifatnya yang predator terhadap telur ikan lokal merusak keseimbangan ekosistem asli Jakarta.

Aksi bersih-bersih yang dijadwalkan besok tidak hanya menyasar ikan invasif, tetapi juga mencakup:

  • Pengerukan Lumpur: Mengatasi sedimen yang memicu pendangkalan.
  • Perbaikan Saluran: Memastikan aliran air optimal.
  • Mitigasi Banjir: Persiapan menghadapi musim hujan yang diprakirakan tiba pada September 2026.

(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya