Pramono Anung Targetkan Pembersihan 5 Wilayah, Ini 10 Fakta Ikan Sapu-Sapu yang Jadi Ancaman Jakarta

Akmal Fauzi
16/4/2026 17:41
Pramono Anung Targetkan Pembersihan 5 Wilayah, Ini 10 Fakta Ikan Sapu-Sapu yang Jadi Ancaman Jakarta
Petugas mengambil ikan sapu-sapu yang mati di sungai.(Antara)

GUBERNUR DKI Jakarta, Pramono Anung, akan melakukan pembersihan sungai dan saluran air serta ikan sapu-sapu di ibu kota. Pemusnahan ikan sapu-sapu secara berkala akan dilakukan di sejumlah wilayah guna menjaga keseimbangan ekosistem sungai. Lantas, apa yang membuat ikan ini begitu tangguh sekaligus berbahaya? Berikut adalah 10 fakta luar biasa mengenai ikan sapu-sapu:

10 Fakta Ikan Sapu-Sapu

Dikutip dari berbagai sumber, Ikan sapu-sapu, atau yang secara ilmiah dikenal dalam keluarga Loricariidae (sering disebut Plecostomus atau "Pleco"), merupakan salah satu penghuni air tawar yang paling populer sekaligus paling disalahpahami. Di balik wajahnya yang unik dan kebiasaannya menempel di kaca akuarium, tersimpan fakta-fakta luar biasa mengenai ketahanan hidup dan dampaknya terhadap ekosistem global.

1. Berasal dari Perairan Amerika Selatan

Meskipun sangat mudah ditemukan di sungai-sungai besar di Indonesia, ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli nusantara. Habitat asli mereka adalah sungai-sungai di Amerika Tengah dan Selatan, terutama di lembah sungai Amazon. Kehadiran mereka di luar wilayah tersebut biasanya disebabkan oleh pelepasan sengaja oleh pemilik akuarium.

2. Memiliki "Baju Zirah" Bukan Sisik

Berbeda dengan ikan pada umumnya yang memiliki sisik tipis, tubuh ikan sapu-sapu dilapisi oleh pelat tulang yang keras. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung dari serangan predator. Teksturnya yang kasar dan keras membuat banyak predator enggan memangsa mereka.

3. Mulut Penghisap yang Multifungsi

Ciri khas utama ikan ini adalah mulutnya yang terletak di bagian bawah (ventral) dan berbentuk seperti alat penghisap. Mulut ini tidak hanya digunakan untuk mengikis alga dari bebatuan atau kaca, tetapi juga berfungsi sebagai jangkar agar mereka tidak terbawa arus sungai yang deras.

4. Kemampuan Bertahan Hidup di Lingkungan Ekstrem

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan yang luar biasa. Mereka mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah dan tingkat pencemaran tinggi. Dalam kondisi darurat, mereka memiliki kemampuan untuk memodifikasi sistem pencernaannya untuk menyerap oksigen dari udara yang ditelan ke dalam perut.

Catatan Penting: Karena kemampuannya menyerap polutan, ikan sapu-sapu yang hidup di sungai tercemar (seperti di kawasan perkotaan) cenderung mengakumulasi logam berat seperti merkuri dan timbal di dalam dagingnya, sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.

5. Spesies Invasif yang Mendominasi

Di banyak negara, termasuk Indonesia, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies invasif. Karena tidak memiliki predator alami yang cukup kuat untuk menembus kulit kerasnya, populasi mereka meledak dan menggeser keberadaan ikan lokal. Mereka juga sering merusak jaring nelayan dan melubangi tebing sungai untuk membuat sarang, yang memicu erosi.

6. Tidak Hanya Pemakan Lumut

Banyak orang mengira ikan sapu-sapu hanya makan lumut. Faktanya, mereka adalah omnivora oportunistik. Selain alga, mereka memakan detritus, larva serangga, hingga bangkai ikan lain. Di akuarium, jika kekurangan makanan, mereka bahkan bisa menempel pada tubuh ikan lain untuk menghisap lapisan lendir pelindungnya.

7. Ukuran yang Bisa Menjadi Raksasa

Saat dibeli di toko ikan hias, sapu-sapu biasanya berukuran kecil (5-10 cm). Namun, jenis Hypostomus plecostomus dapat tumbuh hingga mencapai panjang 50-60 cm di alam liar. Hal inilah yang sering membuat pemilik akuarium kewalahan dan akhirnya melepaskan mereka ke sungai.

8. Memiliki Variasi Jenis yang Sangat Banyak

Dunia hobi akuarium mengenal ratusan jenis Loricariidae. Ada jenis yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi karena coraknya yang indah, seperti Zebra Pleco (L46) yang memiliki garis hitam-putih tegas. Harga jenis tertentu bisa mencapai jutaan Mata Uang Rupiah per ekor.

9. Aktif di Malam Hari (Nocturnal)

Ikan sapu-sapu adalah hewan nokturnal. Mereka cenderung bersembunyi di balik kayu atau bebatuan pada siang hari dan menjadi sangat aktif mencari makan ketika cahaya meredup atau pada malam hari.

10. Peran Ekologis yang Ambivalen

Di satu sisi, mereka membantu mengontrol pertumbuhan alga di perairan. Namun di sisi lain, nafsu makan mereka yang besar dapat menghabiskan sumber daya makanan bagi ikan asli. Di beberapa wilayah, keberadaan mereka dianggap sebagai indikator kualitas air yang buruk, karena mereka tetap bertahan saat spesies lain mati akibat polusi.

Jakarta Perang Lawan Sapu-Sapu

Sebelumnya, Pramono Anung, menegaskan bahwa ikan invasif ini akan dimusnahkan secara berkala di lima wilayah kota administrasi karena dinilai merusak ekosistem dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Langkah ekstrem ini diambil menyusul hasil uji laboratorium yang menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu di perairan Jakarta mengandung polutan berbahaya. Selain itu, kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa membuat kerusakan lingkungan di sungai-sungai ibu kota semakin parah.

Pramono menjelaskan bahwa penanganan ikan sapu-sapu ini akan dibarengi dengan program normalisasi saluran air secara menyeluruh.

“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak. Dan dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Dia lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/4)

(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya