Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GUBERNUR DKI Jakarta, Pramono Anung, akan melakukan pembersihan sungai dan saluran air serta ikan sapu-sapu di ibu kota. Pemusnahan ikan sapu-sapu secara berkala akan dilakukan di sejumlah wilayah guna menjaga keseimbangan ekosistem sungai. Lantas, apa yang membuat ikan ini begitu tangguh sekaligus berbahaya? Berikut adalah 10 fakta luar biasa mengenai ikan sapu-sapu:
Dikutip dari berbagai sumber, Ikan sapu-sapu, atau yang secara ilmiah dikenal dalam keluarga Loricariidae (sering disebut Plecostomus atau "Pleco"), merupakan salah satu penghuni air tawar yang paling populer sekaligus paling disalahpahami. Di balik wajahnya yang unik dan kebiasaannya menempel di kaca akuarium, tersimpan fakta-fakta luar biasa mengenai ketahanan hidup dan dampaknya terhadap ekosistem global.
Meskipun sangat mudah ditemukan di sungai-sungai besar di Indonesia, ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli nusantara. Habitat asli mereka adalah sungai-sungai di Amerika Tengah dan Selatan, terutama di lembah sungai Amazon. Kehadiran mereka di luar wilayah tersebut biasanya disebabkan oleh pelepasan sengaja oleh pemilik akuarium.
Berbeda dengan ikan pada umumnya yang memiliki sisik tipis, tubuh ikan sapu-sapu dilapisi oleh pelat tulang yang keras. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung dari serangan predator. Teksturnya yang kasar dan keras membuat banyak predator enggan memangsa mereka.
Ciri khas utama ikan ini adalah mulutnya yang terletak di bagian bawah (ventral) dan berbentuk seperti alat penghisap. Mulut ini tidak hanya digunakan untuk mengikis alga dari bebatuan atau kaca, tetapi juga berfungsi sebagai jangkar agar mereka tidak terbawa arus sungai yang deras.
Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan yang luar biasa. Mereka mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah dan tingkat pencemaran tinggi. Dalam kondisi darurat, mereka memiliki kemampuan untuk memodifikasi sistem pencernaannya untuk menyerap oksigen dari udara yang ditelan ke dalam perut.
Catatan Penting: Karena kemampuannya menyerap polutan, ikan sapu-sapu yang hidup di sungai tercemar (seperti di kawasan perkotaan) cenderung mengakumulasi logam berat seperti merkuri dan timbal di dalam dagingnya, sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies invasif. Karena tidak memiliki predator alami yang cukup kuat untuk menembus kulit kerasnya, populasi mereka meledak dan menggeser keberadaan ikan lokal. Mereka juga sering merusak jaring nelayan dan melubangi tebing sungai untuk membuat sarang, yang memicu erosi.
Banyak orang mengira ikan sapu-sapu hanya makan lumut. Faktanya, mereka adalah omnivora oportunistik. Selain alga, mereka memakan detritus, larva serangga, hingga bangkai ikan lain. Di akuarium, jika kekurangan makanan, mereka bahkan bisa menempel pada tubuh ikan lain untuk menghisap lapisan lendir pelindungnya.
Saat dibeli di toko ikan hias, sapu-sapu biasanya berukuran kecil (5-10 cm). Namun, jenis Hypostomus plecostomus dapat tumbuh hingga mencapai panjang 50-60 cm di alam liar. Hal inilah yang sering membuat pemilik akuarium kewalahan dan akhirnya melepaskan mereka ke sungai.
Dunia hobi akuarium mengenal ratusan jenis Loricariidae. Ada jenis yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi karena coraknya yang indah, seperti Zebra Pleco (L46) yang memiliki garis hitam-putih tegas. Harga jenis tertentu bisa mencapai jutaan Mata Uang Rupiah per ekor.
Ikan sapu-sapu adalah hewan nokturnal. Mereka cenderung bersembunyi di balik kayu atau bebatuan pada siang hari dan menjadi sangat aktif mencari makan ketika cahaya meredup atau pada malam hari.
Di satu sisi, mereka membantu mengontrol pertumbuhan alga di perairan. Namun di sisi lain, nafsu makan mereka yang besar dapat menghabiskan sumber daya makanan bagi ikan asli. Di beberapa wilayah, keberadaan mereka dianggap sebagai indikator kualitas air yang buruk, karena mereka tetap bertahan saat spesies lain mati akibat polusi.
Sebelumnya, Pramono Anung, menegaskan bahwa ikan invasif ini akan dimusnahkan secara berkala di lima wilayah kota administrasi karena dinilai merusak ekosistem dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Langkah ekstrem ini diambil menyusul hasil uji laboratorium yang menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu di perairan Jakarta mengandung polutan berbahaya. Selain itu, kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa membuat kerusakan lingkungan di sungai-sungai ibu kota semakin parah.
Pramono menjelaskan bahwa penanganan ikan sapu-sapu ini akan dibarengi dengan program normalisasi saluran air secara menyeluruh.
“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak. Dan dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Dia lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/4)
(Ant/P-4)
Pemprov DKI "perang" lawan ikan sapu-sapu mulai Jumat (17/4). Nelayan Ciliwung sebut sulit habis seperti nyamuk. Cek fakta kandungan lab dan dampaknya di sini!
Di akuarium, ikan sapu-sapu sering diberi makanan tambahan dalam bentuk pelet atau tablet yang dirancang khusus untuk alga dan detritus.
Pemprov Jakarta menetapkan tarif transportasi umum hanya Rp1 pada 24 April 2026. Berlaku untuk MRT, LRT, dan TransJakarta selama 24 jam penuh.
Ia menilai aksi kekerasan tersebut sudah berulang dan tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan biasa.
Masyarakat saat ini tidak lagi sekadar datang untuk rekreasi fisik, melainkan mencari koneksi emosional dan nilai kebersamaan dengan keluarga.
Pendataan dilakukan melalui koordinasi berjenjang hingga tingkat RT/RW, disertai layanan langsung ke permukiman warga.
Menurutnya, situasi geopolitik yang tidak menentu serta ancaman El Nino hingga September berpotensi mengganggu kinerja ekonomi daerah.
Pemprov DKI akan mengatur pajak kendaraan listrik usai Permendagri 11/2026 terbit, dengan besaran disesuaikan kebijakan daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved