Kim Jong Un Ungkap Kebijakan Bunuh Diri Tentara Korut di Perang Rusia-Ukraina

Wisnu Arto Subari
29/4/2026 06:09
Kim Jong Un Ungkap Kebijakan Bunuh Diri Tentara Korut di Perang Rusia-Ukraina
Kim Jong Un.(Al Jazeera)

PEMIMPIN tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, untuk pertama kalI mengonfirmasi bahwa pasukannya yang dikerahkan ke medan perang Rusia-Ukraina mengikuti kebijakan bunuh diri. Langkah ekstrem ini diambil guna menghindari penangkapan oleh pihak lawan saat membela kepentingan Rusia dalam konflik tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Kim saat meresmikan museum peringatan bagi tentara Korea Utara yang gugur dalam konflik tersebut. Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim memuji kepahlawanan luar biasa dari para prajurit yang tanpa ragu memilih melakukan serangan bunuh diri dengan meledakkan diri.

Korea Utara saat ini menjadi satu-satunya pihak ketiga yang mengerahkan pasukan tempur langsung ke garis depan sebagai bagian dari aliansi strategis dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Langkah ini mempertegas poros militer antara Moskow dan Pyongyang yang kian solid.

Korban Jiwa dan Operasi di Kursk

Berdasarkan data intelijen Korea Selatan, diperkirakan sekitar 15.000 tentara Korea Utara dikerahkan ke Rusia. Fokus utama operasi mereka mencakup upaya merebut kembali wilayah Kursk barat yang sempat dikuasai Ukraina pada tahun 2024.

Meski angka pastinya sulit diverifikasi, hampir 2.000 tentara Korea Utara diyakini tewas dalam tugas tersebut. Peresmian monumen di Pyongyang pada hari Minggu itu turut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan pasukan tersebut.

Fakta Lapangan: Sejak kehadiran mereka terdeteksi pada Oktober 2024, hanya dua tentara Korea Utara yang dilaporkan tertangkap hidup-hidup. Laporan dari The Independent menyebutkan seorang tentara bahkan mencoba menggigit pergelangan tangannya sendiri untuk mengakhiri hidup saat akan ditawan di wilayah Kursk.

Doktrin Kehormatan Negara

Dalam pidatonya, Kim Jong Un menekankan bahwa aksi meledakkan diri di medan perang dilakukan demi membela kehormatan negara. Ia menegaskan bahwa para prajurit tersebut tidak mengharapkan kompensasi atau imbalan apa pun atas pengorbanan mereka.

Kim menggambarkan kampanye militer di Ukraina sebagai sejarah baru persahabatan dengan Rusia yang ditulis dengan darah. Ia menyebutnya sebagai perang suci untuk memusnahkan penjajah.

Aliansi Jangka Panjang dan Uji Coba Nuklir

Selain menghadiri upacara, Kim Jong Un dan Andrey Belousov membahas rencana penandatanganan perjanjian kerja sama militer baru untuk periode 2027 hingga 2031. Perjanjian ini bertujuan memperkuat hubungan pertahanan bilateral agar lebih berkelanjutan setelah menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2024.

Di sisi lain, Pyongyang memanfaatkan keterlibatan dalam konflik Eropa ini untuk menguji coba persenjataan mereka secara langsung, termasuk rudal balistik Hwasong-11 (KN-23/KN-24). Sepanjang 2026, Korea Utara tercatat melakukan sedikitnya tujuh uji coba rudal balistik.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan setelah Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengonfirmasi ada peningkatan pesat aktivitas di fasilitas nuklir Korea Utara dalam sepekan terakhir. (The Independent/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya